Adab dan Etika Hubungan Pasutri

Dalam hadis yang bersumber dari Abu Said Al-Khudri, Rasulullah saw pernah berwasiat kepada menantunya Ali bin Abi Thalib (sa):

“Wahai Ali, jika isterimu memasuki rumahmu, hendaknya melepaskan sandalnya ketika ia duduk, membasuh kedua kakinya, menyiramkan air dimulai dari pintu rumahmu sampai ke sekeliling rumahmu. Karena, dengan hal ini Allah mengeluarkan dari rumahmu 70.000 macam kefakiran dan memasukkan ke dalamnya 70.000 macam kekayaan, 70.000 macam keberkahan, menurunkan kepadamu 70.000 macam rahmat yang meliputi isterimu, sehingga rumahmu diliputi oleh keberkahan dan isterimu diselamatkan dari berbagai macam penyakit selama ia berada di rumahmu.

Cegahlah isterimu (selama seminggu dari awal perkawinan) minum susu dan cuka, makan Kuzbarah (sejenis rempah-rempah, ketumbar) dan apel yang asam. Ali bertanya: Ya Rasulallah, mengapa ia dilarang dari empat hal tersebut? Rasulullah saw menjawab: Empat hal tersebut dapat menyebabkan isterimu mandul dan tidak membuahkan keturunan. Sementara tikar di rumahmu lebih baik dari perempuan yang mandul. Kemudian Ali (sa) bertanya: Ya Rasulallah, mengapa ia tidak boleh minum cuka? Rasulullah saw menjawab: Cuka dapat menyebabkan tidak sempurna kesucian dari haidnya; Kuzbarah menyebabkan darah haid berakibat negatif terhadap kandungannya dan mempersulit kelahiran; sedangkan apel yang asam dapat menyebabkan darah haid terputus sehingga menimbulkan penyakit baginya. Kemudian Rasulullah saw bersabda:

Pertama: Wahai Ali, janganlah kamu menggauli isterimu pada awal bulan, tengah bulan, dan akhir bulan, karena hal itu mempercepat datangnya penyakit gila, kusta, dan kerusakan syaraf padanya dan keturunannya.

Kedua: Wahai Ali, janganlah kamu menggauli isterimu sesudah Zhuhur, karena hal itu (bila dianugrahi anak) dapat menyebabkan jiwa anak mudah goncang, dan setan sangat menyukai manusia yang jiwanya goncang.

Ketiga: Wahai Ali, janganlah kamu menggauli isterimu sambil berbicara, karena hal itu (bila dianugrahi anak) dapat menyebabkan kebisuan. Dan janganlah seorang suami melihat kemaluan isterinya, hendaknya memejamkan mata ketika berhubungan, karena melihat kemaluan dapat menyebabkan kebutaan pada anak.

Keempat: Wahai Ali, jangan menggauli isterimu dengan dorongan syahwat pada wanita lain (membayangkan perempuan lain), karena (bila dikaruniai anak) dikhawatirkan memiliki sikap seperti wanita itu dan memiliki gangguan kejiwaan.

Kelima: Wahai Ali, barangsiapa yang bercumbu dengan isterinya di tempat tidur janganlah sambil membaca Al-Qur’an, karena aku khawatir turun api dari langit lalu membakar keduanya.

Keenam: Wahai Ali, jangan menggauli isterimu dalam keadaan telanjang bulat, juga isterimu, karena khawatir tidak tercipta keseimbangan syahwat, yang akhirnya menimbulkan percekcokan di antara kalian berdua, kemudian menyebabkan perceraian.

Ketujuh: Wahai Ali, janganlah menggauli isterimu dalam keadaan berdiri, karena hal itu merupakan bagian dari prilaku anak keledai, dan (bila dianugrahi anak) ia suka ngencing di tempat tidur seperti anak keledai ngencing di sembarangan tempat.

Kedelapan: Wahai Ali, jangan menggauli isterimu pada malam ‘Idul Fitri, karena hal itu (bila dikaruniai anak) dapat menyebabkan anak memiliki banyak keburukan.

Kesembilan: Wahai Ali, jangan menggauli isterimu pada malam ‘Idul Adhha, karena (bila dianugrahi anak) dapat menyebabkan jari-jarinya tidak sempurna, enam atau empat jari-jari.

Kesepuluh: wahai Ali, jangan menggauli isterimu di bawah pohon yang berbuah, karena hal itu (bila dianugrahi anak) dapat menyebabkan ia menjadi orang yang penyambuk atau pembunuh atau tukang sihir.

Kesebelas: Wahai Ali, jangan menggauli isterimu di bawah langsung sinar matahari kecuali tertutup oleh tirai, karena hal itu (bila dianugrahi anak) dapat menyebabkan kesengsaraan dan kefakiran sampai ia meninggal.

Kedua belas: Wahai Ali, jangan menggauli isterimu di antara adzan dan iqamah, karena hal itu (bila dikaruniai anak) dapat menyebabkan ia suka melakukan pertumpahan darah.

Ketiga belas: Wahai Ali, jika isterimu hamil, janganlah menggaulinya kecuali kamu dalam keadaan berwudhu’, karena hal itu (bila dikaruniai anak) dapat menyebabkan ia buta hatinya dan bakhil tangannya.

Keempat belas: Wahai Ali, jangan menggauli isterimu pada malam Nisfu Sya’ban, karena hal itu (bila dikaruniai anak) dapat menyebabkan tidak bagus biologisnya, bertompel pada kulit dan wajahnya.

Kelima belas: Wahai Ali, jangan menggauli isterimu pada akhir bulan bila sisa darinya dua hari (hari mahaq), karena hal itu (bila anugrahi anak) dapat menyebabkan ia suka bekerjasama dan menolong orang yang zalim, dan menjadi perusak persatuan kaum muslimin.

Keenam belas: Wahai Ali, jangan menggauli isterimu di atas dak bangunan ( yang tidak beratap), karena hal itu (bila dianugrahi anak) dapat menyebabkan ia menjadi orang munafik, riya’, dan ahli bi’ah.

Ketujuh belas: Wahai Ali, jangan menggauli isterimu ketika hendak melakukan perjalanan (bermusafir), jangan menggaulinya pada malam itu, karena hal itu (bila dikaruniai anak) dapat menyebabkan ia suka membelanjakan harta di jalan yang tidak benar (pemboros). Kemudian Rasulullah saw membacakan firman Allah swt:

إِنَّ الْمُبَذِّرِيْنَ كَانُوْا إِخْوَانَ الشَّيَاطِيْنَ.

Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara setan.” (Al-Isra’: 27).
Kedelapan belas: Wahai Ali, jangan menggauli isterimu jika kamu hendak bermusafir 3 hari 3 malam, karena hal itu (bila dianugrahi anak) dapat menyebabkan ia menjadi penolong orang yang zalim.

Kesembilan belas: Wahai Ali, gauilah isterimu pada malam senin, karena hal itu (bila dikaruniai anak) dapat menyebabkan ia menjadi pemelihara Al-Qur’an, ridha terhadap pemberian Allah swt.

Kedua puluh: Wahai Ali, jika kamu menggauli isterimu pada malam Selasa, hal itu (bila dikaruniai anak) dapat menyebabkan ia dianugrahi syahadah setelah bersaksi “Sesungguhnya tiada tuhan kecuali Allah dan Muhammad adalah utusan Allah”, tidak disiksa oleh Allah bersama orang-orang yang musyrik, bau mulutnya harum, hatinya penyayang, tangannya dermawan, dan lisannya suci dari ghibah dan dusta.

Kedua puluh satu: Wahai Ali, jika kamu menggauli isterimu pada malam Kamis, hal itu (bila dianugrahi anak) dapat menyebabkan ia menjadi ahli hukum dan orang yang ‘alim.

Kedua puluh dua: Wahai Ali, jika kamu menggauli isterimu pada hari Kamis setelah matahari tergelincir, hal itu (bila dikaruniai anak) dapat menyebabkan ia tidak didekati setan sampai berubah rambutnya, menjadi orang yang mudah paham, dan dianugrahi oleh Allah Azza wa Jalla keselamatan dalam agama dan di dunia.

Kedua puluh tiga: Wahai Ali, jika kamu menggauli isterimu pada malam Jum’at, hal itu (bila dianugrahi anak) dapat menyebabkan ia menjadi orang yang orator. Jika kamu menggauli isterimu pada hari Jum’at setelah Ashar, (bila dikaruniai anak) dapat menyebabkan ia menjadi orang yang terkenal, termasyhur dan ‘alim. Jika kamu menggauli isterimu pada malam Jum’at sesudah ‘Isya’, maka diharapkan kamu memiliki anak yang menjadi penerus, insya Allah.

Kedua puluh empat: Wahai Ali, jangan gauli isterimu pada awal waktu malam, karena hal itu (bila dianugrahi anak) dapat menyebabkan ia menjadi orang yang tidak beriman, menjadi tukang sihir yang akibatnya buruk di dunia hingga di akhirat.

Kedua puluh lima: Wahai Ali, pegang teguhlah wasiatku ini sebagaimana aku memeliharanya dari Jibril (as). (Kitab Makarimul Akhlaq: 210-212)

Tinggalkan komentar

Filed under Uncategorized

Senandung Cinta Hamzah Fansuri

Hamzah Fansuri lebih dikenal dengan pemikiran sufistik panteistik. Para peneliti menganggap ajaran Hamzah tersebut sangat dipengaruhi oleh pandangan wahdatul wujud Ibnu ‘Arabi. Pandangan Hamzah mengenai kesauan alam-Tuhan terlihat dalam berbagai karya prosa dan sya’ir yang dikemukakannya. Namun demikian, sesungguhnya Hamzah, di dalam berbagai prosa dan sya’irnya juga mengemukakan pandangan cinta.

Dalam pandangan Hamzah Fansuri dalam berbagai sya’irnya rasa cinta kepada Tuhan diuangkapkan Hamzah bukan hanya dalam tataran bentuk, namun ia juga mengemukakan bagaimana seorang manusia bisa mendapatkan Cinta-Nya. Pandangan Cinta Hamzah ini menunjukkan bahwa ia tidak hanya mewarisi pemikiran Ibnu ‘Arabi dalam bidang wujud Tuhan, namun ia juga memiliki pengetahuan dalam bidang tasawuf cinta dari sufi lainnya, seperti Rumi, Attar, Ain al-Qudhdat dan lainnya.

Dari kajian penulis, pemikiran mahabbah (cinta) yang dikemukakan Hamzah merupaka sebuah bangunan yang berdampingan dengan pemahamannya tentang Tuhan. Karenanya Tuhan dan Cinta tidak bisa dipisahkan.

Pendahuluan

Hamzah Fansuri dikenal sebagai sufi dan pemikir tasawuf dari Aceh yang memiliki pengaruh besar dalam penyebaran Islam di Indonesia, khususnya dalam bidang tasawuf. Ia dilekatkan dengan pemikiran wahdat al wujud yang diprakarsai oleh Ibnu ‘Arabi. Bahkan ia dianggap menjadi penyebar pemikiran-pemikiran Ibnu ‘Arabi di Nusantara.

Omar A. Bakar menyatakan kalau karya-karya Hamzah Fansuri merupakan penjelasan dan pengulangan pemikiran Ibnu ‘Arabi dalam bahasa Melayu. Pandangan ini diberikan setelah melihat kecenderungan dan inti pemikiran Hamzah Fansuri yang tidak terlalu berbeda dengan pemikiran para sufi sebelumnya.

Hamzah sendiri sering menyebut nama para sufi Islam masa lalau dalam karyanya, terutama para sufi falsafi seperti Abu Yazid al-Bistami, Al-Hallaj dan Ibnu ‘Arabi dalam beberapa karyanya. Ini semakin meguatkan tesis para ahli yang menempatkan Hamzah sebagai pensyarah pemikiran sufi klasik Islam dalam bahsa Melayu, dapat menjadi hujjah bahwa Hamzah dianggap tidak memiliki pemikiran original dalam masalah tasawuf.

Di sisi lain, meskipun Hamzah menyebutkan beberapa nama Sufi klasik Islam dalam berbagai karyanya, ataupun kesamaan ajaran dan pemikiran tasawuf Hamzah dengan mereka, tetap menjadikan Hamzah sebagai seorang sufi dan pemikiran tasawuf Nusantara yang istimewa dalam pandangan beberapa sarjana yang lain. Abdul Hadi WM dalam Tasawuf Tertindas, Kajian Heurmaneutika Puisi Hamzah Fansuri mengemukakan bahwa Hamzah telah menjadi duta bagi perkembangan dan kemajuan sastra Melayu.

Ia adalah perintis sastra becorak Islam di Nusantara. Maka tidak heran, sampai saat ini karyanya menjadi inspirasi bagi pasa sastrawan. Sebelum Abdul Hadi, Syeed Naquib al-Attas dalam The Mysticisme of Hamzah Fansuri mengatakan bahwa Hamzah memiliki peran besar dalam membantu Bangsa Melayu dan bangsa lain di Nusantara menimba ilmu dari pemikiran Arab-Parsi, dan melalui itu pula dapat menimba ilmu dari falsafah Yunani Kuno dan memperkaya kebudayaan bangsa di Nusantara serta memperkokoh hubungannya dengan bangsa lain di laut tengah.

Dalam penelitiannya, al-Attas juga menjelaskan bahwa pemikiran tasawuf Hamzah Fansuri bukan hanya masalah wahdat al- wujud semata, namun dalam berbagai karyanya juga terdapat pemikiran lainnya yang berhubungan dengan tasawuf dan kehidupan manusia.

Setidaknya ada delapan pokok pemikiran tasawuf Hamzah Fansuri yang dikemukakan oleh al-Attas; yakni doktrin dan pengajaran kebatinan tentang keesaan Tuhan; berbagai hal yang diciptakan Tuhan di dunia; kontinyuitas ciptaan, takdir; masalah roh dan jiwa; atribut yang ilahi; arti pemunahan diri; dan pengetahuan dan kebebasan dalam ilmu kebatinan Islam atau Sufism.
Dalam hemat penulis, dua sisi pandang yang telah dikemukakan oleh sarjana sebagaimana tersebut di atas masih menyisakan berbagai topik yang mungkin dikaji dalam karya-karya yang ditinggalkan oleh Hamzah Fansuri yang ada saat ini.

Salah satu di atantaranya adalah masalah mahabbahtullah. Mahabbatullah atau cinta ketuhanan merupakan salah satu pemikiran tasawuf Hamzah yang tersirat secara konsisten dalam berbagai karyanya, baik puisi-puisi ruba’i, maupun dalam berbagai essainya. Ini menunjukkan Hamzah memiliki perhatian besar dalam masalah mahabbatullah dan dalam konteks hubungan manusia dengan Tuhan.

Mahabbahtullah sendiri bukanlah pemikiran baru dalam khazanah pemikiran Tasawuf Islam. Pada awal perkembangan tasawuf saja sudah lahir Rabi‘ah al-‘Adawiyah yang sya’ir cintanya memberikan nuansa baru dalam pemikiran tasawuf masa itu yang cenderung pada kezahidan dan penempatan Tuhan sebagai objek yang ditakuti.

Rabi‘ah berhasil membangun fondasi pemikiran Cinta kepada Tuhan yang mempu memberikan paradigma lain dalam melihat Tuhan. Ia menemptakan Tuhan sebagai Kekasih yang ia dan Tuhan saling merindukan.

Perkembangan ini mendapat sistematisasi pada masa Ibnu ‘Arabi. Dengan filsafat mistisnya tentang wujud ia memperjelas hubungan yang didasari cinta antara Tuhan dan hamba. Di mana wujud cinta Tuhan kepada hamba termanifestasi pada penciptaan Adam (dan ketrunannya) dan wujud cinta hamba kepada-Nya adalah kesadaran akan keberadaaanya yang semu.

Pada saat yang hampir bersamaan pula, di Konya,Turki, Jalaluddin Rumi meliris puluhan ribu sya’ir cinta dalam Matsnawi. Sya’ir-sya’ir ini mencoba mendeskripsikan hubungan cinta manusia dan Tuhan yang abadi.

Di Nusantara, seriring dengan berkembangnya agama Islam, maka mazhab tasawuf yang dilandasi cinta ini juga berkembang. Hamzah Fansuri merupakan salah satu sufi yang memiliki keterpengaruhan dengan filsafat mistis yang berlandskan cinta sebagaimana yang pernah berkembang dalam tasawuf Islam klasik.

Dalam berbagai sya’irnya ia mencoba menjelaskan hubungan manusia dengan Tuhan yang dilandsai cinta. Cintalah yang akan membawa kesempurnaan hidup manusia dan membawanya pada kebahagiaan hakiki yakni perjumpaan dengan Allah.

Tulisan ini berusaha mendeskripsikan hakikat cinta dalam pandangan Hamzah Fansuri. Hakikat cinta hanya akan diperoleh setelah mengetahui makna, proses pencapaian dan manifestasinya. Dengan demikian pembahasan akan dimulai dengan kajian terhdap pandangan mahabbah dalam perspektif mazhab tasawuf Islam klasik.

Dengan demikian akan mampu memberikan fondasi bagi posisi pemikiran Hamzah dalam mahbbah nantinya.

Diskursus Mahabbah Dalam Pandangan Sufi

Pemaknaan dan pemahaman cinta dalam dunia sufi bukanlah hal yang baru dan asing. Sejak kemunculannya, sufisme telah dihiasi dengan pemaknaan cinta mistik oleh para sufi. Rabi’ah al-Adawiyah sebagai sufi pertama yang mengemukakakn masalah mistisisme cinta ini mengatakan bahwa mencintai Allah dengan dua model cinta:

“Aku mencintaimu dengan dua cinta,
cinta rindu dan cinta karena Kau layak dicinta adapun cinta rindu,
karena hanya Kau kukenang selalu bukan selain-Mu adapun cinta karena Kau layak dicinta,
karena Kau singkapkan tirai sampai Kau nyata bagiku baik ini maupun untuk itu,
pujian bukanlah bagiku namun bagi-Mu Sendiri sekalian puji.”

Menurut al-Ghazali dalam kitabnya Ihya ‘Ulumuddin cinta rindu (hub al-hawa) yang dimaksudkan Rabi’ah adalah cinta kepada Allah karena kebaikan dan karunia-Nya kepadanya, dengan seketika. Dan cinta kepada-Nya karena Dia layak dicintai ialah cinta keindahan dan keagungan-Nya yang tersingkap padanya. Cinta kedua inlah yang paling luhur dan mendalam serta merupakan kelezatan melihat keindahan Tuhan.

Hal ini seperti disabdakan Rasulullah saw dalam sebuah Hadits Qudsi bahwa Allah berfirman: “Bagi hambaku yang shaleh Aku menyiapkan apa yang tidak terlihat mata, tidak terdengar telinga, dan tidak terbesit kalbu manusia.”

Penjelasan lain mengenai cinta ini diberikan oleh Abu Thalib al-Makiy dalam Quth al-Qulub. Ia mengatakan bahwa makna cinta karena rindu adalah rasa cinta yang timbul karena nikmat dan kebaikan yang diberikan Allah.

Adapun yang dimaksud nikmat di sini adalah nikmat materil dan bukan spirituil, karena hub di sini bersifat hub inderawi. Walau demikian, cinta rindu yang diajukan Rabi’ah ini tidak berubah-ubah, tidak bertambah dan tidak berkurang karena bertambah atau berkurangnya nikmat. Hal ini karena Rabi’ah tidak memandang nikmat itu sendiri tetapi sesuatu yang ada di sebalik nikmat tersebut.

Sementara cinta karena Kau layak dicintai adalah cinta yang tidak didorong oleh kesenangan inderawi, tetapi didorong oleh Zat yang dicintai. Cinta yang kedua ini tidak mengharapkan balasan apapun. Dan kewajiban yang dijalankan oleh Rabi’ah semuanya bermula dari perasaan cinta dari Zat yang dicintai.

Rabi’ah sendiri saat ditanyai mengenai cinta mengatakan:

“Cinta datang dari keabadian (azal) dan melampaui hingga keabadian (abad). Dia tidak menemukan siapapun dalam delapanbelas ribu alam untuk meminum seteguk darinya. Dia akhirnya mencapai al-Haqq, dan dari-Nya-lah ungkapan ini tinggal: Dia mencintainya dan mereka mencintai-Nya.”

Mereka bertanya: “Apakah engkau melihat Dia yang engkau sembah?”

Rabi’ah menjawab: “Jika aku tidak melihat, maka aku tidak akan menyembah.” Rabi’ah menempatkan kehadiran Dia Yang dicintai dalam hati sebagai unsur pokok dari cinta. Dengan kehadiran Tuhan dalam hatilah ia membuang segala sesuatu selain Dia. Bahkan kehadiran-Nya menjadikan ia tidak memiliki tempat untuk mencintai sesama manusia –bahkan Rasulullah- dan juga membenci setan.

“Akibat cinta yang menggelora,
aku tidak memiliki alasan untuk membenci setan.
Aku melihat Rasulullah dalam sebuah mimpi.
Dia berkata,
Rabi’ah apkah engkau mencintaiku?
Aku berkata,
Ya Rasulullah, siapakah yang tidak mencintaimu?
Tetapi cinta al-Haqq telah begitu meliputiku sehingga tidak ada tempat dalam hatiku untuk cinta atau benci terhadap yang lain.”

Sufi lainnya, Maulana Jalaluddin Rumi adalah sufi lain yang mengemukakan masalah mahabbah dalam tasawufnya.

Penjelasan Rumi dalam berbagai sya’ir dan karya bebasnya kerapkali dilandasaan pada cinta ketuhanan. Namun demikian ia menegaskan cinta adalah sesuatu yang tidak teridentifikasikan.

Akal yang menjelaskan cinta laksana keledai dalam paya, dan pena yang berusaha menggambarkannya akan hancur berkeping-keping. Karena hati manusia merupakan “astroable Cinta”, yang memperlihatkan berbagai aspek dan posisinya.

Rumi menjelaskan masalah ini dengan ungkapan-ungkapan segar, paradoks yang aneh, dan dialog kecilyang hidup antara hatinya dan kekuatan luar biasa tersebut. Ia jarang melakukan pengulangan. Ungkapan yang satu dengan yang lain susul menyusul dengan kecepatan yang menyesakkan nafas walaupun kelihatannya susunanya tidak logis.

Dalam sebuah sya’irnya ia “bebincang” dengan Cinta untuk mencari tahu bagaimana rupa Cinta tersebut:

Satu malam aku bertanya kepada Cinta:
“Katakan,siapa sesungguhnya dirimu?”
Katanya:
“Aku ini kehidupan abadi,
Aku memperbanyak kehidupan indah.”
Kataku:
“Duhai yang di luar tempat,
di manakah rumahmu?”
Katanya:
“Aku ini bersama api hati,
dan di luar mata yang basah,
Aku ini tukang cat;
karena akulah setiap pipi berubah jadi berwarna kuning.
Akulah utusan yang ringan kaki,
sedangkan pecinta adalah kuda urusanku.
Akulah merah padamnya bunga tulip,
harganya barang itu,
Akulah manisnya ratapan,
penyibak segala yang tertabiri…

Namun demikian, dalam beberapa sya’irnya Rumi menjelaskan makna cinta dengan anlogi yang beragam:

Cinta adalah ikatan kasih sayang,
ia adalah sifat Tuhan
Cinta adalah sifat Tuhan,
dan takut adalah sifat hamba yang menderita karena nafs dan kerakusan.
Ketahuilah bahwa Cinta dan Kasih adalah sifat-sifat Tuhan,
dan takut, oh kawan, bukan Sifat Tuhan!
Yang lain menyebut Engkau Cinta,
tetapi aku memanggil Dikau Sultan Cinta,
oh Dikau yang berada di seberang konsep ini dan itu,
jangan pergi tanpa diriku!
Jika aku harus meneruskan keteranganku tentang Cinta,
walau seratus kebangkitan berlalu,
belum juga purna. .

Analogi cinta seperti yang ada dalam sya’irnya di atas selalu konsisten dalam semua ungkapan Rumi tentang cinta lainnya yang menunjukkan Rumi memiliki “mazhab” cinta tersendiri. Konsistensi Rumi dalam “mazhab” cinta inilah yang menjadi dasar bagi F. C. Happold memasukkannya sebagai tokoh terkemuka dalam mistisisme cinta dan penyatuan mistik.

Minstisisme jenis ini berusaha membebaskan diri dari rasa terpisah dan kesebatangkaraan diri, melalui jalan persatuan dengan alam dan Tuhan, yang membawa rasa damai dan memberi kepuasan kepada jiwa. Merasa sepi, mistikus cinta berusaha menanggalkan ‘diri khayali’ atau ego rendah (nafs) dan pergi menuju diri yang lebih agung, diri sejati dan hakiki, mendapatkan keriangan bersama Tuhan.

Sudahkah engkau mendengar maklumat Sang Kaisar?
Segenap keindahan akan meruyak dari balik selubung.
Inilah maklumat-Nya:
“Tahun ini Aku ingin agar gula murah harganya.”

Tahun yang membahagiakan! Luar biasa, hari yang terberkati! Kaisar Yang Murah Hati! Tawa kemenangan, sungguh menawan!
Saat ini, terlarang untuk duduk berdiam di rumah, karena Sang Kaisar sedang berjalan-jalan di alun-alun. Mari bersama kami menuju ke sana dan saksikan perjamuan yang penuh keceriaan-baik yang tampak maupun tersembunyi.
Meja telah disiapkan, pemberkatan yang bersahutan terdengar menggema: halwa dan unggas panggang.
Para pelayan berdiri bagai rembulandi depan saki; musisi memainkan nada yang lebih manis dari kehidupan.
Namun, cinta kepada Sang Raja telah membebaskan ruh para pemabuk dari saki dan meja perjamuan.

Engkau berkata:
“Di mana hal ini mungkin terjadi?” Kujawab: “Di sana, tepat di titik tempat pikiran “Di mana” menyeruak.”

Dalam pandangan Rumi, cinta dapat digunakan sebagai jalan untuk memahami kehidupan dan asal usul ketuhanan dari dirinya senidiri. Cinta adalah asas penciptaan alam semesta dan kehidupan, cinta adalah keinginan kuat untuk menggapai sesuatu, untuk menjelmakan diri cinta adalah penggerak kehidupan dan perputaran alam semesta.

Cinta sejati dapat membawa seseorang mengenal alam akibat yang tersembunyi dalam bentuk-bentuk lahiriah kehidupan. Oleh sebab cinta dapat membawa manusia kepada kebenaran yang tinggi maka cinta menjadi unsur terpenting dalam transendensi diri. Cintalah sayap yang membuatnya dapat terbang tinggi menuju Yang Satu.

Dalam hal ini Rumi mengungkapkan:

Inilah Cinta: Terbang tinggi ke langit, mi’raj Mencampakkan, setiap saat, ratusan hijab
Mula-mula dengan menyangkal dunia (zuhud) Pada akhirnya jiwa berjalan tanpa kaki jasad
Sejak itu jiwa memandang dunia telah raib Dan tak peduli semua yang tampak di depan mata
O hati, kurestui kau dan kuizinkan Memasuki lingkaran (da’irah) para pencinta!
Memandang jauh ke balik dunia rupa Menembus lubuk terdalam hakikat
Dari mana napas ini datang kepadamu, o jiwaku? Dari mana keasyikan ini datang, o hati?
O burung (ruh) bicaralah dalam bahasa burung Kini kutahu makna tersembunyi kata-katamu!

Dalam sya’ir lain ia mengungkapkan:

Lewat Cintalah semua yang pahit akan jadi manis, Lewat Cintalah semua tembaga akan jadi emas
Lewat Cintalah semua endapan akan jadi anggur murnni Lewat Cintalah semua kesedihan akan jadi obat
Lewat Cintalah si mati akan jadi hidup Lewat Cintalah raja akan jdi budak! Karenanya Rumi mengajak para pecinta menunju hakikat cinta, meninggalkan dan melupakan segala yang lainnya. Sebab “kematian terburuk adalah hidup tanpa cinta.”

Tuhan adalah keindahan, Dia indah dan mencintai keindahan. Dengan demikian tidak ada keindahan lain selain keindahan Tuhan. Keindahan hakiki hanyalah milik-Nya sedankan keindahan yang lain hanyalah bayangan dari keindahan Hakiki.

Dalam bagian lain Rumi mengatakan bahwa cinta merupakan alasan kenapa alam diciptakan. “Aku ingin (cinta) untuk dikenal, maka Kuciptakan dunia.” Hadits inienggambarkan bagaimana Tuhan merupakan sesuatu yang tersembunyi yang berkeinginan untuk dikenal. Berkeinginan di sini tidak dimaksudkan sebagai penggambaran kebutuhan Tuhan sebab Tuhan tidak membutuhkan segala sesuatu. Cinta bukanlah zat, namun ia sifat, selaiknya sifat Tuhan yang lainnya.

Makhluk-makhluk bergerak karena Cinta, Cinta oleh keabadian tanpa permulaan: angin menari-nari karena semesta, pohon-pohon disebabkan oleh angin.

Tuhan berkata pada Cinta, “Jika bukan karena keindahanmu, untuk apa Aku mesti menatap pada cermin eksistensi?”

Sya’ir Cinta Hamzah Fansuri

Sebagaimana saya kemukakan dalam pembahasan di atas, mahabbah bukanlah wacana yang asing dalam tasawuf Islam. Sejak awal kemunculan tasawuf sebagai suatu mazahab pemikiran, maka wacana tersebut telah tumbuh dan berkembang. Abu Nasr al-Sarraj al-Tusi mengatakan bahwa mahabbah memiliki tiga tingkatan: pertama, cinta orang biasa, yakni selalu mengingat Allah dengan berzikir, suka menyebut nama Allah SWT dan memperoleh kesenangan dalam dialog dengan-Nya serta senantiasa memuji-Nya. Kedua, cinta orang siddiq (jujur, benar), yaitu orang yang mengenal Allah SWT seperti kebesaran-Nya, kekuasaan-Nya dan ilmu-Nya.

Cinta ini dapat menghilangkan tabir yang memisahkan diri seseorang dari Allah SWT sehingga ia dapat melihat yang ada pada Allah SWT. Ia mengadakan “dialog” dengan Allah dan memperoleh kesenangan dari dialog tersebut.

Cinta tingkat kedua ini membuat orang sanggup menghilangkan kehendak dan sifatnya sendiri, sementara hatinya penuh dengan perasaan cinta dan selalu rindu kepada Allah. Ketiga, cinta orang arif, yaitu cinta orang yang tahu betul akan Allah SWT, yang dilihat dan dirasa bukan lagi cinta tapi diri yang dicintai. Akhirnya sifat yang dicintai masuk ke dalam diri yang mencintai. Cinta pada tingkatan ke tiga inilah yang menyebabkan seorang hamba dapat berdialog dan menyatu dengan (kehendak) Allah.

Pandangan Hamzah Fansuri dalam masalah ini agaknya terkait erat dengan apa yang dimasukkan dalam kategori ketiga oleh Al-Sarraj. Dalam salah satu Ruba’i-nya Hamzah mengatakan:

Mahbubmu itu tiada ber-hail Fa ainama tuwallu jangan kau ghafil Fa samma wajhullah sempurna wasil Inilah jalan orang yang kamil

Syamsuddin al-Sumatrani dalam Syarah Ruba’i Hamzah Fansuri, mengatakan bahwa dari syair ini Hamzah ingin menjelaskan bagaimana hakikat hubungan antara seorang pecinta dan yang dicintainya.

Bait pertama menjelaskan tentang keterbukaan Allah dari hijab bagi seorang pecintanya. Ia dapat disaksikan oleh pecinta tanpa ada apapun yang membatasi padangannya. Hal ini dijelaskan lagi dalam bait kedua di mana Allah itu sendiri ada di mana saja sang pecinta menghadakan wajahnya.

Tatakala seorang pecinta telah jatuh cinta dengan cinta yang benar pada yang dicintainya, maka wajah sang Kekasih akan termanifestasi dalam segala apa yang dilihatnya. Fa samma wajhullah menguatkan bahwa dimana-mana ada wajah-Nya. Sehingga pecinta sejati tidak akan pernah kehilangan kesempatan melihat-Nya. Inilah cinta sejati bagi seorang pecinta.

Melihat Tuhan bisa saja terjadi dan dilakukan oleh seorang salik karena bagi seorang salik, Tuhan bukanlah zat yang tersembunyi. Ia zahir dan nyata di mata batin sang pecinta. Rahman sebagai sifat Tuhan dan iapula cinta, dan cinta itu adalah Wujud, yakni eksistensi Tuhan itu sendiri.

Rahman itulah yang bernama wujud Keadaan Tuhan yang sedia ma’bud Kenyataan Islam Nasrani dan Yahud Dari rahman itulah sekalian maujud

Rahman di sini adalah rahman dalam ati zatiyah. Hal ini terlihat karena hal ini dilimpahkan kepada semua –ras- manusia tanpa pilih kasih, Islam, Nasrani dan Yahidi sama saja. Ia ada sejak zaman azali dan bahkan dari rahman itulah semuanya diciptakan.

Ma’bud itulah yang terlalu bayan (nyata) Pada kedua alam kull yawm huwa fi sya’n Ayat ini dari surah al-rahman Sekalian alam di sana hayran

Dalam bait ini Hamzah menjelaskan kesatuan Tuhan dengan ciptaannya. Kull yawm huwa fi sya’n menunjukkan “kesibukan-Nya” mengurus alam. Setiap hari ia menyatu dengan alam dan mengurus makhluk-Nya. Maka, dalam posisi Tuhan seperti ini, setiap salik pecintanya akan mendapatkannay dengan mudah dan melihatnya pada segala sesuatu.

Haqiqat itu terlalu ‘iryan Pada rupa kita sekalain insan Aynama tuwallu suatu burhan Fa tsamma wajh Allah pada sekalian makan Aynama tuwallu…. Fa tsamma wajh Allah (QS:: 2: 115) menggambarkan bahwa wajah Allah termanifestasi dalam setiap diri insan dan segala yang wujud. Manifestasi wujud Tuhan dalam Insan ini disinggung pula dalam hadits, Allah menciptakan Adam menyerupai shurah (rupa) al-Rahman. Dalam hal ini maka Adam mendapatkan segala rupa lain dari alam semesta yang berupa miniaturnya.

Sementara wajah Allah berarti Nur-Nya. Ia adalah hakikat nur, sehingga nur-nur yang lain berasal dari Nur-Nya.

Akhir dari perjalan seorang salik adalah mendapatkan cinta Ilahi yang akan mennjadikannya sebagai insan kamil. Penggapaian ini berwujud pada kesadaran kesatuan pandang antara diri dan Tuhan, seperti terungkap dalam sya’irnya:

Ma’bud itulah yang bernama haqiq
Sekalian alam di dalamnya ghariq
Olehnya itu sekalian fariq
Pada kunhi-nya tiada beroleh thariq

Seorang salik harus terus menerus berusaha menggapai cinta Ilahi tertinggi dengan kesadaran akan kebersatuannya. Hal ini dilakukan dengan pelaksanaan ajaran Islam dengan sempurna pula. Salah satu usaha dasar yang diperlukan adalah pembersihan jiwa.

Aho segera kita yang asyqi Ingat-ingat akan makna insani Jika sungguh engkau bangsa ruhani Jadikan dirimua supaya Sultani Kenal dirimu hai anak ‘alim Supaya engkau senantiasa salim Dengan dirimu yogya kau qaim Itulah hakikat shalat dan shaim Dirimu itu bernama khalil Tiada bercerai dengan rabbul al-jalil Jika dapat ma’na dirimu akan dalil Tiada berguna mazhab dan sabil Kullu man ‘alaihafanin ayat min rabbihi Menyatakan makna irji’I ila ashliki Akan insan yang beroleh tawfiqihi Supaya karam di dalam sirru sirrihi Situlah wujud sekalian fanun Tinggallah engkau dari mal wal al-banun Engkaulah ‘asyiq terlalu junun Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un

Langkah pertama dan utama yang harus diperhatikan seorang salik dalam menuju Tuhan adalah meningkatkan kehidupan ruhani sehingga ia semakin dekat dengan sifat-sifat Tuhan dan akan mengenalnya dengan baik.

Seorang salik mesti terus menerus menempauh jalan hakikat ini, sebab iru merupakan hakikat terdalam dari peribadatan kepada Allah. Jika seseorang telah mengenal dan bersungguh-sungguh dalam menempuh jalan-Nya maka tidak perlu lagi baginya mazhab-mazhab ibadah sebagaimana diamalkan oleh orang awam.

Ketika ia menggapai posisi tertinggi dalam maqam kedekatan dengan Tuhan, maka sang salik dianggap telah mampu memancarkan nur ketuhanan dan alm dirinya, atau dikenal dengan manusia sebagai wadah tajalli Tuhan. Manusia seperti ini adalah manusia sempurna. Manusia paripurna, atau disebut juga dengan istilah adi manusia atau al-insan al-kamil, merupakan wujud terbaik yang diekspresikan oleh manusia.

Kebahagiaan-kebahagiaan yang konstan yang dialami oleh manusia akan membawanya menjadi manusia sempurna. Manusia sempurna berarti wujud terbaik yang diekspresikan oleh manusia dengan kemampuan memanfaatkan seluruh potensi yang dimilikinya.

Pembicaraan mengenai al-insan al-kamil mendapatkan porsi yang sangat besar dalam tradisi sufi, terutama setelah Ibn ‘Arabi dan muridnya al-Jili. Pembahasan mengenai insan kamil dalam perspektif al-Jili tidak bisa dilepaskan dari konsep al-insan al-kamil yang dikembangkan oleh Ibn ‘Arabi sebelumnya. Inti dari tasawuf Ibn ’Arabi pada dasarnya adalah al-insan al-kamil, yang dikembangkan dari konsep wahdat al-wujud-nya.

Al-insan al-kamil seperti dikembangkan oleh para sufi tradisional Islam tersebut menempatkan al-insan al-kamil sebagai manusia yang mampu mencerminkan sifat-sifat Tuhan dalam dirinya. Pemancaran sifat Tuhan dalam al-insan al-kamil dimungkinkan karena di dalam dirinya memang terdapat potensi ketuhanan yang disebut dengan dimensi ruh.

Dalam pandangan Hamzah Fansuri, kemulian manusia terletak pada kesempurnaannya dalam berhubungan dengan Allah. Manusia yang paling sempurna adalah mereka yang mampu memabifestasikan keseluruauhan sifat Tuhan dalam diriya. Dalam Burung Pingai Hamzah menyatakan:

Mazhar Allah akan rupanya Asma Allah akan namanya Malaikat akan tentaranya ‘akulah wasil’ akan katanya Sayapnya bernama furqan Tubuhnya bersurat Qur’an Kakinya Hannan dan Mannan Daim bertengger di tangan Rahman Ruh Allah akan nyawanya Sirr Allah akan angganya Nur Allah kana matanya Nur Muhammad daim sertanya

Syair di atas menggambarkan posisi manusia yang telah menyatu dengan Tuhan. Ia menggambarkan bagaimana keseluruhan dirinya diliputi oleh asma’ dan sifat Tuhan. Tidak ada sisi dalam dirinya yang tidak diliputi Tuhan. Bagaikan Tuhan ia dikawal malaikat-Nya dan berdiri di atas kakinya yang juga merupakan malaikat-Nya (Hannan dan Mannan). Dalam tataran inilah manusia menjadi sempurna:

Dengarkan, hai anak jamu Unggas itu sekalian kamu Ilmunya yogya kau ramu Supaya jadi mulai adamu

Kesimpulan

Dari paparan di atas terlihat bahwa Hamzah menjelaskan mahabbah dalam pandangan Hamzah adalah perjalanan dan pencapaian. Perjalanan dilakukan dengan suluk yakni upaya-upaya penyucian diri dari segala sesuatu yang duniawi menuju hakikat Ilahi. Penyucian diri dilakukan terus menerus hingga ia menggapai cinta hakiki yakni Tuhan. Dalam tataran tertinggi penggapaiannya maka ia akan “menyatu” dengan Tuhan dan menjadi menifes Tuhan dalam alam.

Cinta adalah hakikatt Tuhan yang Wujud dalam alam. Ia menampakkan dirinya berupa surah dalam diri manusia. Setiap manusia yang menempah jalan menuju Tuhan mesti membersihkan diri dari sifat keduniawian. Sifat ketuhanan akan masuk dalam diri yang telah bebas dari sifat keduniawiannya. Seseorang yang telah mampu menampakkan sifat-sifat ketuhanan dalam irinya ia adalah insan kamil.

Hamzah Fansuri menggambarkan mahabbah sebagai landasan sangat penting dalam tasawuf. Seperti ualma-ulama tasawuf sebelumnya, Hamzah Fansuri menempatkan Tuhan sebagai Zat “tanpa murka” karena cinta-Nya lebih besar dari murka-Nya. Karenanya seorang salik hendaknya melihat Tuhan dari wajah cinta dan mengabaikan wajah murka.

Dengan demikian aia akan menjadi seorang salik yang akan menjumpai Tuhan dalam cinta, sebab hanya dalam cintalah kebahagiaan dan kesempurnaan hakiki akan tercapai.

Catatan Perjalanan dan Pemikiran Sehat ihsan Shadiqin

Tinggalkan komentar

Filed under filsafat timur, ilmu tauhid, sufistik, tokoh

Islam di Malaysia Sinergikan Islam dan Kemajuan

Visi 2020 mencita-citakan terwujudnya sebuah negara maju yang berlandaskan nilai Islam.

Malaysia adalah salah satu negara dengan tingkat perekonomian paling maju di kawasan Asia Tenggara. Ibu kotanya, Kuala Lumpur, telah menjelma menjadi kota modern, dengan ikonnya menara kembar Petronas (Twin Tower).

Sebagian kalangan di negara jiran itu menganggap, arsitektur kembar dari salah satu bangunan tertinggi di dunia ini, punya arti khusus. Menara kembar merupakan simbol kerukunan.

Tidak berbeda dengan Indonesia, penduduk Malaysia mayoritas adalah penganut Islam. Jumlahnya mencapai lebih 60 persen dari total populasi yang sekitar 27 juta jiwa. Islam pun menjiwai segenap aspek kehidupan. Sejak merdeka dari Inggris pada 31 Agustus 1956, pemerintah menerapkan kebijakan yang senantiasa berlandaskan pada nilai-nilai agama.

Hal tersebut lantas dituangkan dalam konstitusi negara. Berdasarkan definisi pasal 160 undang-undang, segenap warga etnis Melayu dianggap beragama Islam. Meski begitu, konstitusi secara teoretis juga menjamin kebebasan beragama.

”Tantangan Malaysia pada abad ke-21 yakni bagaimana mewujudkan masyarakat Muslim yang demokratis di tengah kehidupan yang multietnis dan agama,” urai pengamat senior dari BBC, Roger Hardy, dalam artikelnya bertajuk Malaysia: Islam and Multi-Culturalism. Kemajuan negara dan kebangkitan Islam. Itulah tema sentral yang diusung jajaran pimpinan pemerintahan. Dan Roger Hardy memiliki sejumlah catatan penting terkait penerapan dua konsep tadi.

Dimulai pada era tahun 80 dan 90-an. Ketika itu, negara seluas 329.847 kilometer persegi ini dipimpin oleh Perdana Menteri (PM), Dr Mahathir Mohammad.
Lebih jauh Hardy menjelaskan, Mahathir menginginkan terwujudnya kemajuan Islam di era modern. Didorong oleh tujuan tersebut, bersama partai berkuasa UMNO, Mahathir mencanangkan program modernisasi berdasarkan dua kebijakan utama.

Pertama, Islam memperoleh keistimewaan dalam kehidupan bernegara dan bermasyarakat. Ini mencakup upaya penanaman nilai-nilai dan identitas Islam, membangun institusi keislaman serta membuka hubungan lebih luas dengan dunia Islam.

Kedua, meneruskan kebijakan affirmative action yang telah dimulai pada 70-an, yakni memberikan keistimewaan kepada etnis Melayu yang Muslim untuk menduduki pos-pos penting di pemerintahan maupun dalam bidang pendidikan.

Pengamat lain, yakni Hussin Muttalib, juga melihat pemerintah ingin mengembangkan Islam secara lebih kuat. ”Hal ini, misalnya, tampak dari kebijakan di sejumlah negara bagian,” tegasnya dalam buku Islam in Malaysia ; From Revivalism to Islamic State.

Tahun 1987, negara bagian Johor, Selangor, Perlak, dan Malaka, mengeluarkan peraturan antipemurtadan. Bagi kaum non-Muslim yang terbukti melakukan pemurtadan, akan mendapatkan sanksi.

Selain itu, pemerintah menetapkan agar stasiun penyiaran milik negara, Radio and Television Malaysia (RTM), hanya menyiarkan program-program keislaman. Tak hanya itu, kementerian informasi mengimbau kepada seluruh masyarakat untuk menerima Islam sebagai agama resmi negara, dan bisa menerima keistimewaannya di atas agama lain.

Pada 1991, dikeluarkan peraturan baru, yakni mereka yang ingin melamar pekerjaan sebagai pegawai pemerintah, diwajibkan memiliki pengetahuan agama Islam secara memadai. Termasuk kemampuan membaca Alquran.

Warga Muslim tak luput dari sanksi tegas. Bila tertangkap sedang mabuk di muka umum, mereka akan dihukum cambuk (jild). Dan semua ketentuan itu ditujukan sebagai upaya pengembangan dinamika keagamaan.

Sampai kemudian Dr Mahathir mencanangkan visi 2020 sebagai target pencapaian menjadi negara maju di tahun 2020. Tentu saja, kemajuan harus tetap berdasarkan pada moral dan nilai-nilai Islam.

Hanya saja, tidak semua kalangan menerima begitu saja apa yang lantas mereka sebut proses Islamisasi ini. Menurut Hardy, ada dua pihak yang cukup kritis, dan mereka memiliki alasan yang bertolak belakang.

Bagi kaum sekular, liberal, aktivis, dan pemerhati hak-hak asasi manusia, semisal Malik Imtiaz, kebijakan Islamisasi di bidang politik dan masyarakat, sudah terlampau jauh. Secara keras, dia bahkan mengibaratkan bahwa warga minoritas telah dianggap sebagai warga kelas dua.

Akan tetapi, dari sudut Partai Islam se-Malaysia (PAS), langkah itu justru belum cukup bila ingin membentuk negara berasaskan Islam. Memang, setelah memisahkan diri dari UMNO sekitar tahun 50-an, PAS selalu menyuarakan keinginan agar Malaysia menerapkan undang-undang syariah.

Keputusan Pengadilan
Seiring lengser -nya Dr Mahathir dari kursi perdana menteri tahun 2003, sambung Hardy, Malaysia memasuki masa transisi. Semua pihak berharap kepada Abdullah Ahmad Badawi, penerus Mahathir, untuk terus membawa kemajuan pada milenium baru.

Di antara aspirasi tersebut, adalah kesetaraan di antara warga negara dan pemeluk agama. ”Itulah tantangan terbesar pada era post-Mahathir,” papar Hardy.
Dikatakan, perlu ada langkah dan kebijakan yang bisa mengakomodasi keinginan segenap pihak, baik kalangan minoritas maupun Islam. Dan hal itu tidaklah mudah.
Terbukti dari insiden pekan lalu. Tiga gereja di Kuala Lumpur diserang oleh orang tidak bertanggung jawab, yang segera menarik perhatian dunia internasional mengingat selama ini jarang muncul kekerasan berlatar agama di sana.

Pemicu kejadian diduga terkait keputusan Pengadilan Tinggi Kuala Lumpur tanggal 31 Desember 2009, yang membolehkan umat non-Muslim memakai kata-kata ‘Allah’ untuk menyebut Tuhan mereka. Beberapa kelompok Islam kecewa atas keputusan tersebut.

Polemik berawal saat ada pelarangan terhadap surat kabar non-Muslim, The Herald, untuk menampilkan kata-kata ‘Allah’ pada penerbitan edisi berbahasa Melayu. Pelarangan telah diberlakukan selama tiga tahun. Akan tetapi, oleh keputusan pengadilan, pelarangan tadi dicabut. PM Najib Tun Razak menyampaikan keprihatinan seraya mengutuk perusakan gereja-gereja itu. Ia menyebutkan bahwa, ”Tindakan semacam itu akan dapat menghancurkan harmonisasi di negara tersebut.”

Kolumnis kondang, Karim Raslan, berpendapat, insiden ini tidak perlu terjadi di Malaysia yang mayoritas Muslim. Dalam situs The Malaysia Insider, Raslan meminta agar segenap warga dapat mengenyahkan rasa takut dan lebih percaya diri untuk membangun kerukunan.

Konsep Islam Hadhari

Prestasi yang dicapai Malaysia tak lepas dari penerapan konsep Islam Hadhari. Konsep ini untuk pertama kali diperkenalkan oleh PM Abdullah Ahmad Badawi (kala itu), dalam pidatonya di hadapan Dewan Umum Partai UMNO, September 2004.

Islam Hadhari adalah sebuah konsep tatanan kehidupan beragama untuk mewujudkan kemajuan umat di segala bidang. Menurut Pak Lah, sapaan akrab Badawi, Islam Hadhari merupakan upaya untuk membawa umat Islam kembali ke dasar dan fundamental Islam sesuai Alquran dan hadis tentang dasar-dasar pembentukan masyarakat madani.

Pada era globalisasi dewasa ini, umat Islam dituntut untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia (SDM). Dengan itu maka umat akan mampu bersaing dan mencapai kesejahteraan.

Di negara-negara mayoritas Muslim, segala upaya perlu dilaksanakan guna menuju penguasaan ilmu dan teknologi dengan tetap berlandaskan pada nilai-nilai keislaman. Tantangan itulah yang melandasi munculnya konsep Islam Hadhari.

Ada 10 prinsip Islam Hadhari, antara lain, iman dan takwa kepada Allah, pemerintahan yang adil dan dipercaya, kebebasan dan kemerdekaan rakyat, penguasaan ilmu pengetahuan, perkembangan ekonomi yang seimbang dan komprehensif, serta taraf hidup yang memadai bagi semua golongan.

Selain itu juga perlindungan hak kaum minoritas dan perempuan, integritas moral dan budaya, perlindungan lingkungan hidup, serta pertahanan yang kuat.
Konsep tersebut pernah disampaikan oleh Pak Lah dalam sambutannya di Oxford Centre of Islamic Studies, Magdallen College, University of Oxford, Inggris. Hal serupa dilakukan di depan sidang Jamiah Milliah Islamiyyah di New Delhi, India.

Pada berbagai kesempatan, Pak Lah menjelaskan bahwa pendekatan Islam Hadhari diharapkan dapat membawa kemajuan bagi umat Islam di negara itu dan bermanfaat bagi pembangunan Malaysia. Sehingga, pendekatan Islam Hadhari adalah tujuan jangka panjang untuk memastikan umat Islam serta orang Melayu maju dan berjaya.

”Saya tidak menginginkan bila kita nanti menjadi sebuah negara maju berdasarkan visi Wawasan 2020, semuanya maju tapi bila kita menengok kepada umat Islam di sini, kita masih terbelakang,” katanya pada harian Utusan Malaysia.

Hadhari berasal dari kata hadhara yang maknanya hadhir (hadir). Kupasan dari istilah hadhir ini ialah realitas. Jadi, Islam Hadhari ialah Islam Realitas. ”Realitas adalah yang sebenarnya, yang betul-betul Islam, yang murni dan hakiki, atau Islam seperti yang dibawa oleh Rasulullah SAW,” papar Pak Lah.

Akan tetapi, pada perjalanannya, konsep ini menimbulkan beragam opini di tengah masyarakat. Bahkan, ada yang berpendapat Islam Hadhari adalah Islam sekular.
Menanggapi penafsiran semacam itu, Najib Tun Rajak yang kini menjabat PM Malaysia, meminta umat Muslim Malaysia untuk memahami konsep Islam Hadhari dalam kehidupan sehari-hari. ”Bila sudah memahami, tiada lagi kontroversi, sebab Islam Hadhari berdasarkan ajaran Islam,” ujarnya.

Tinggalkan komentar

Filed under budaya, geoekonomi-politik, islam nusantara, peradaban islam, rehat, sejarah, tokoh

Islam di Aljazair Gencar Mempromosikan Sufisme

Pemerintah memberikan peran yang lebih luas kepada para penganut aliran sufi ini.

Pagi sebentar lagi tiba. Satu per satu warga mulai bersiap diri untuk memulai hari. Namun, kesibukan yang berlangsung tak lantas memecah konsentrasi sebagian orang yang sedang tekun berzikir di sebuah masjid di kawasan luar Kota Aljier, ibu kota Aljazair.

Ada sekitar 60 orang yang terlibat dalam kegiatan itu. Dengan duduk bersila sambil membentuk lingkaran, mereka khusyuk melantunkan tahmid, tahlil, dan tasbih, memuja Allah dan Rasul-Nya.

Mereka adalah anggota sebuah majelis zikir. Dan seperti halnya di Indonesia, jumlah majelis zikir di negara yang berada di Afrika Utara itu terus bertambah dari waktu ke waktu.

Satu hal penting, patut menjadi catatan, majelis zikir di Aljazair kebanyakan menganut aliran sufi. Perkembangan tersebut tak lepas dari peran pemerintah. Mereka ingin memacu aktivitas keagamaan ini sebagai program prioritas, khususnya guna menyebarluaskan ajaran sufi.

Pertanyaannya, apa urgensi dari kebijakan itu? Seperti diketahui, sudah sejak lama negara ini dilanda konflik yang melibatkan tentara pemerintah dengan kelompok Islam, dan telah menimbulkan kerugian besar baik jiwa maupun harta benda.

Setelah melalui pendekatan keamanan; penggerebekan, penahanan, bahkan kontak senjata, yang terbukti tidak membuahkan hasil, pemerintah Aljazair mencoba upaya baru untuk menghentikan konflik. Mendorong semangat beragama di kalangan masyarakat luas, kini menjadi ‘senjata’ andalan pemerintah.

Aliran sufisme pun gencar digemakan di seantero negeri. Sufisme dianggap sebagai solusi tepat untuk mengatasi gejolak sekaligus meningkatkan kesadaran akan pentingnya perdamaian dan kebersamaan.

Berbagai langkah segera bergulir. Antara lain, adanya program di televisi dan radio guna menyebarluaskan sufisme. Sejumlah tokoh agama berpengaruh dilibatkan untuk mengenalkan dan memberikan pemahaman terkait sufisme ini. Kegiatan tersebut tentu saja berada dalam pengawasan pemerintah.

Pada dasarnya, aliran sufi bisa ditemukan di hampir semua negara mayoritas Islam di dunia. Pengikut aliran sufi akan menomorsatukan ibadah guna mendekatkan diri kepada Allah, baik melalui pengajian, zikir, dan ibadah lainnya. Mereka pun biasanya memilih menjauhkan diri dari kehidupan politik.

Di lain pihak, aliran salafi banyak dianut oleh anggota kelompok perlawanan yang ingin mengubah kondisi negara sesuai nilai-nilai Islam. Salafi yang berkembang pertama kali di Arab Saudi adalah sebuah gerakan paham politik Islamisme yang mengambil pemahaman leluhur (salaf) dari patristik masa awal Islam sebagai paham dasar.

Atas pemikiran itu, ideologi salafi berusaha untuk menghidupkan kembali praktik Islam seperti yang dipraktikkan pada masa Rasulullah. Mereka tidak menghendaki inovasi yang telah dan akan ditambahkan dalam kehidupan sosial keagamaan umat Islam.

Meski demikian, di Aljazair, sufi belum dipraktikkan secara luas. Salah satu alasannya lantaran sebagian besar masjid dan mushala lebih condong mengikuti paham salafi tadi.

Berapa jumlah pengikut aliran sufi di Aljazair, tidak diketahui secara pasti. Akan tetapi, menurut George Joffe, peneliti pada departemen riset Center of International Study, Universitas Cambridge, saat ini diperkirakan terdapat sekitar satu hingga 1,5 juta pengikut sufi dari total populasi 34 juta jiwa.

Para pejabat pemerintah berkeyakinan, sufisme bisa menciptakan perdamaian permanen di Aljazair. Mohamed Idir Mechnane, seorang pejabat teras di kementerian agama, mengatakan, pihaknya berupaya keras untuk memasyarakatkan ajaran Islam tradisional yang lebih mengedepankan toleransi, perdamaian, dan terbuka.

”Dan alhamdulillah, semakin banyak anggota masyarakat yang memahami dan bersedia mengikuti ajaran sufi ini,” katanya, dikutip dari kantor berita reuters.

Demi menyukseskan program ini, pemerintah memberikan peran yang lebih luas di masyarakat kepada pengikut sufi. Misalnya, mengorganisasi acara pernikahan, membantu anak yatim, mengajarkan baca tulis Alquran, serta memberikan santunan bagi kaum dhuafa.

”Selama lebih dari 14 abad, Islam telah hadir di negara ini,” ungkap Hadj Lakhdar Ghania, salah satu anggota majelis zikir, Tidjania Zaouia. ”Kami terbiasa hidup dalam harmoni dan damai.”

Akan tetapi, sambung dia, begitu para pengikut salafi mengatakan agar Aljazair mempraktikkan Islam seperti yang mereka praktikkan, maka mulai timbul perbedaan pendapat.

Cara menyebarluaskan ajaran sufi sebenarnya bukanlah ide baru. Sejak 2007, sebuah penelitian dari Rand Corporation menyebutkan bahwa sufisme terbukti sangat efektif untuk mempromosikan Islam moderat.

”Islam tradisionalis dan sufi merupakan bagian tak terpisahkan, mengingat banyak kesamaan di antara keduanya,” papar studi itu.
Para pengikut salafi segera bereaksi. Mereka tidak bisa menerima beberapa praktik ritual sufi, semisal ziarah ke makam ulama.

Sebaliknya, mereka menilai ajaran salafilah yang seharusnya diterapkan.
”Salafi sangat penting untuk menangkal pemikiran dan ibadah yang menyimpang dari nilai-nilai Islam. Kami mendorong generasi muda untuk mengikuti ajaran Islam yang benar dan tidak terpengaruh gaya hidup Barat,” ujar Sheikh Abdelfatah, salah seorang tokoh salafi terkemuka.

Tapi, mengapa kemudian salafi dikaitkan dengan kekerasan? Sheikh Abdelfatah membantahnya. Dia berpendapat, di negara manapun, ajaran salafi selalu dipraktikkan dengan damai.

Untuk membuktikan pernyataannya, Sheikh Abdelfatah meminta agar publik kembali ke tahun 2001. Saat itu, pascaperistiwa 11 September 2001, sejumlah ulama salafi segera mengutuk aksi kekerasan tersebut.

Demikian juga ulama salafi lainnya yang kini menetap di Arab Saudi, Abdelmalek Ramdani, menyerukan kepada pengikutnya untuk menjauhi kekerasan dan permusuhan.

Gagasan lain dikemukakan Mouloudi Mohamed, seorang cendekiawan Muslim setempat. Dia berpendapat, upaya terbaik untuk menghentikan kekerasan yakni dengan kembali ke praktik tradisional Islam yang telah berlangsung di negara itu sejak beradab-abad silam.

”Saya tidak yakin kita harus ‘mengimpor’ solusi dari luar negeri, tapi akan lebih baik jika kita mulai mempraktikkan Islam seperti yang pernah dilakukan ayah dan kakek kita dulu,” tegas dia.

Awal dari Gejolak Itu

Konflik di Aljazair yang telah berlangsung sejak 1992, setidaknya terkait dengan tiga hal; ekonomi, sosial, dan politik. Pemerintah dinilai tidak mampu melakukan perbaikan secara menyeluruh hingga menimbulkan gelombang ketidakpuasan.

Islam sejatinya memiliki sejarah panjang di Aljazair. Agama ini telah berkembang sejak masa Khilafah Bani Umayyah (682 M). Dari Tunisia, tentara Islam melakukan dakwah dan jihad, sekaligus membebaskan rakyat Maroko, Aljazair, dan Libya dari kekuasaan Romawi.

Setelah itu, Islam tumbuh subur di kawasan Afrika Utara. Warga Muslim di kawasan itu akhirnya turut mendukung gerakan tentara Islam saat mengalahkan Spanyol.

Tapi, seiring memudarnya masa kegemilangan Islam, sebagian kawasan Islam berangsur dikuasai imperialis Barat. Aljazair sendiri akhirnya menjadi jajahan Prancis.

Perlawanan umat Muslim berkobar. Hingga pada 1962, negara ini meraih kemerdekaan, akan tetapi ketergantungan kepada Prancis nyatanya masih sangat besar.

Sistem republik diberlakukan dalam pemerintahan negara. Meski begitu, hanya ada satu partai, yakni FLN yang sekular, serta mendominasi aspek perpolitikan.

Dalam perkembangannya, pemerintah dianggap gagal menjalankan fungsinya terutama dalam bidang ekonomi. Data menyebutkan bahwa 50 persen penduduk Aljazair usia produktif adalah pengangguran.

Utang luar negeri menjadi andalan mengatasi krisis. Namun, langkah ini kurang berhasil, namun justru menguras pendapatan negara dari hasil penjualan minyak serta gas.

Akhir 1980-an, mengutip dari situs heritage.com, gejolak terjadi di mana-mana. Dalam situasi carut-marut, muncul keinginan dari sebagian kalangan untuk kembali menerapkan sistem Islam, yang lantas disambut secara luas.

Presiden Chadli Benjedid tidak menyangka reaksi dari masyarakat kian membesar. Dia pun berjanji melakukan reformasi, antara lain, menawarkan sistem multipartai, dan pemilu yang demokratis.

Kelompok gerakan Islam mengambil peluang ini dengan mendirikan sejumlah partai baru, salah satunya FIS (Front Islamique du Salut/Front Pembebasan Islam). Dan hasilnya sangat mengejutkan, FIS menang dalam pemilu multipartai pertama negara tersebut.

Umat Islam menyambut penuh sukacita. Sebaliknya, pemerintah dan kalangan Barat merasa khawatir kemenangan itu bisa meruntuhkan tatanan sistem sekuler dan demokrasi di Aljazair serta di kawasan.

Militer pun campur tangan untuk mencegah kemenangan FIS. Presiden Benjedid diturunkan, selanjutnya dibentuk Dewan Negara. Hasil pemilu dibatalkan, sehingga kembali memicu perlawanan.

Tinggalkan komentar

Filed under humaniora, informasi, peradaban islam, sejarah, seni, seni dan sastra, sufistik

Hujjatul Islam, Abdurrahman Ambo Dalle: Mahaguru Bugis

Abdurrahman Ambo Dalle, dikenal sebagai salah seorang perintis berdirinya Departemen Agama di Sulawesi Selatan.

Kemunduran umat Islam Indonesia yang kita lihat dan alami saat ini tidak lain dan tidak bukan disebabkan oleh para pemimpin dan tokoh-tokoh Islam yang kurang memerhatikan metode pendidikan dan seni dakwah serta tidak menggunakan senjata berupa sumber daya manusia dan dakwah sebagaimana seharusnya. Dengan kata lain, umat membutuhkan keteladanan dan ulama serta pemimpin bangsa.

Dalam bukunya yang berjudul Anregurutta Ambo Dalle: Mahaguru dari Bumi Bugis, HM Nasruddin Anshoriy Ch mengungkapkan, sangat sedikit para pemimpin dan tokoh Islam saat ini yang mampu melakukan kerja keras di bidang pendidikan, menebarkan kasih sayang kepada segenap umat dengan jalan silaturahim, serta berjihad dengan indah melalui jalan dakwah untuk mengajak masyarakat ke jalan benar, lurus, dan lempang sebagaimana yang telah dilakukan sosok mahaguru dari bumi Bugis bernama Abdurrahman Ambo Dalle.

Keteladanan ini pula yang dilakukan Ambo Dalle dalam menebarkan Islam dan kasih sayang kepada umat Islam di Sulawesi Selatan dan murid-muridnya.

Penikmat novel trilogi Laskar Pelangi karya Andrea Hirata tentu masih ingat dengan apa yang dilakukan Lintang, seorang anak nelayan yang harus mengayuh sepeda sejauh 40 kilometer agar bisa menuntut ilmu di SMP Muhammadiyah, Belitong.

Seperti itulah yang dilakukan Ambo Dalle. Ulama asal Sulawesi Selatan ini mengayuh sepedanya sejauh 35 kilometer demi mengajar murid-muridnya dan menemui umatnya untuk berdakwah. Ambo Dalle menunjukkan keteladanan seorang pemimpin dalam mengayomi dan melayani umat. Masihkah ada pemimpin dan ulama seperti Ambo Dalle saat ini?

Anregurutta (guru–Red) Abdurrahman Ambo Dalle dilahirkan dari keluarga bangsawan, sekitar tahun 1900, di sebuah desa bernama Ujung yang berada di Kecamatan Tanasitolo, sekitar tujuh kilometer sebelah utara Sengkang yang merupakan ibu kota Kabupaten Wajo. Ayahnya bernama Puang Ngati Daeng Patobo dan ibunya bernama Puang Candara Dewi.

Kedua orang tuanya memberi nama Ambo Dalle yang berarti bapak yang memiliki banyak rezeki. Orang tuanya mengharapkan dirinya agar kelak hidup dengan limpahan rezeki yang cukup. Adapun nama Abdurrahman diberikan oleh seorang ulama setempat bernama KH Muhammad Ishak pada saat berusia 7 tahun dan sudah dapat menghafal Alquran.

Menuntut ilmu
Pada masa kecilnya, Ambo Dalle mempelajari ilmu agama dengan metode sorogan (sistem monolog), yaitu guru membacakan kitab, sementara murid mendengar dan menyimak pembicaraan guru. Pelajaran membaca dan menghafal Alquran ia peroleh dari bimbingan bibi serta kedua orang tuanya, terutama sang ibu. Agar lebih fasih membaca Alquran, Ambo Dalle belajar tajwid kepada kakeknya, Puang Caco, seorang imam masjid yang fasih membaca Alquran di Desa Ujung.

Selama menuntut ilmu, Ambo Dalle tidak hanya mempelajari ilmu-ilmu Alquran, seperti tajwid, qiraat tujuh, nahwu, sharaf, tafsir, dan fikih saja, tapi ia juga mengikuti Sekolah Rakyat (Volk School) pada pagi hari serta kursus bahasa Belanda pada sore hari di HIS Sengkang dan belajar mengaji pada malam harinya.

Sementara itu, untuk memperluas cakrawala keilmuan, terutama wawasan modernitas, Ambo Dalle lalu berangkat meninggalkan Wajo menuju kota Makassar. Di kota ini, ia mendapatkan pelajaran tentang cara mengajar dengan metodologi baru melalui Sekolah Guru yang diselenggarakan Syarikat Islam (SI). Pada saat itu, SI yang dipimpin oleh HOS Cokroaminoto berada dalam masa kejayaan dan benar-benar membuka tabir kegelapan bagi wawasan sosial, politik, dan kebangsaan di seluruh Tanah Air.

Ketika mengikuti sekolah guru di Makassar inilah, ia menemukan kehidupan sosial yang lain dan jauh berbeda dari tanah Wajo yang masih sepi. Makassar, yang saat itu telah menjadi sebuah kota pelabuhan terpenting di kawasan Indonesia Timur, ramai disinggahi oleh kapal besar dan perahu dari berbagai penjuru yang memuat barang-barang dagangan. Beraneka ragam barang niaga, seperti beras, kelapa, hasil hutan, dan kain tenun sutera, ditawarkan orang-orang di pasar-pasar.

Ketika kembali ke Wajo, Ambo Dalle semakin matang secara keilmuan ataupun wawasan. Karena itu, ia bertekad untuk mencerdaskan putra-putri bangsa, khususnya di daerahnya sendiri. Selain kegiatan rohani dengan pendalaman spiritual yang menjadi gairah hidupnya sehari-hari, kegiatan fisik juga tidak diabaikannya. Misalnya, ia selalu aktif berolahraga. Olahraga yang paling digemarinya adalah sepak bola. Ambo Dalle terkenal sebagai seorang pemain bola yang andal. Karena keahliannya dalam menggiring dan mengolah si kulit bundar, rekan-rekannya menjuluki Ambo Dalle sebagai ‘Si Rusa.’

Selain itu, Ambo Dalle terus menambah ilmunya, terutama dalam ilmu agama. Ia pun belajar kepada ulama-ulama asal Wajo yang merupakan alumni Makkah, seperti H Syamsudin dan Sayyid Ali al-Ahdal. Para ulama asal Wajo ini bermaksud membuka pengajian di kampung halaman mereka.

Merintis madrasah
Salah seorang guru Ambo Dalle, yakni Gurutta H As’ad, suatu ketika menguji secara lisan murid-muridnya, termasuk Ambo Dalle. Ternyata, jawaban Ambo Dalle dianggap yang paling tepat dan benar. Maka, sejak saat itu, ia diangkat menjadi asisten dan mulai meniti karier mengajar serta secara intens menekuni dunia pendidikan.

Berkat kerja sama antara Gurutta H As’ad dan Ambo Dalle, pengajian itu bertambah maju. Hal tersebut terdengar sampai ke telinga Raja Wajo saat itu, Arung Matoa Wajo. Arung Matoa Wajo pun memutuskan mengadakan peninjauan langsung ke tempat pengajian milik Gurutta H As’ad. Dalam kunjungannya, Raja Wajo ini meminta agar Gurutta H As’ad membuka sebuah madrasah yang seluruh biayanya ditanggung pemerintah setempat. Gayung bersambut. Maka, tak lama kemudian, dimulailah pembangunan madrasah.

Madrasah yang dibangun ini menyelenggarakan jenjang pendidikan awaliyah (setingkat taman kanak-kanak), ibtidaiyah (SD), dan tsanawiyah (SMP). Lembaga pendidikan itu diberi nama Al-Madrasah al-Arabiyah al-Islamiyah (disingkat MAI) Sengkang. Lambangnya diciptakan oleh Ambo Dalle dengan persetujuan Gurutta H As’ad bin Abdul Rasyid dan ulama lainnya. Dalam waktu singkat, popularitas MAI Sengkang dengan sistem pendidikannya yang modern (sistem madrasah) menarik perhatian masyarakat dari berbagai daerah.

Selanjutnya, atas izin sang guru, Ambo Dalle pindah dan mendirikan MAI di Mangkoso pada 29 Syawal 1356 H atau 21 Desember 1938. Mulai saat itulah, ia mendapat kehormatan penuh dari masyarakat dengan gelar Gurutta Ambo Dalle. MAI Mangkoso ini kelak menjadi cikal bakal kelahiran organisasi pendidikan keagamaan bernama Darud Dakwah Wal Irsyad (DDI).

Sementara itu, sepeninggal Gurutta H As’ad, MAI Sengkang diubah namanya menjadi Madrasah As’adiyah. Perubahan nama tersebut sebagai bentuk penghormatan atas jasa-jasa Gurutta H As’ad.

Berkat dukungan dan simpati dari pemerintah dan masyarakat Mangkoso, pertumbuhan dan perkembangan madrasah yang dipimpin oleh Ambo Dalle ini sangat pesat. Hal ini terbukti dengan banyaknya permintaan dari luar daerah untuk membuka cabang MAI Mangkoso. Untuk merespons permintaan itu, dibukalah cabang MAI Mangkoso di berbagai daerah.

Zaman Jepang
Namun, masalah mulai mengintai ketika Jepang masuk dan menancapkan kuku-kuku imperialis di bumi Sulawesi Selatan. Proses belajar dan mengajar di madrasah ini mulai menghadapi kesulitan karena Pemerintah Jepang tidak mengizinkan pengajaran seperti yang dilakukan di madrasah.

Untuk mengatasi masalah ini, Ambo Dalle tidak kehilangan siasat. Ia pun mengambil inisiatif. Pelajaran yang sebelumnya dilakukan di dalam kelas dipindahkan ke masjid dan rumah-rumah guru. Kaca pada bagian pintu dan jendela masjid dicat hitam agar pada malam hari cahaya lampu tidak tembus ke luar. Setiap kelas dibagi dan diserahkan kepada seorang guru secara berkelompok dan mengambil tempat di mana saja asal dianggap aman dan bisa menampung semua anggota kelompok. Sewaktu-waktu, pada malam hari dilarang menggunakan lampu.

Bukannya sepi peminat, justru siasat yang dilakukan Ambo Dalle ini mengundang masyakarat sekitar untuk mendaftarkan anak-anak mereka belajar di madrasah milik Ambo Dalle. Bahkan, cara yang ditempuhnya ini membuat madrasah tersebut luput dari pengawasan Jepang. berbagai sumber ed:sya

Membangun Benteng Tauhid

Setelah beberapa tahun memimpin MAI Mangkoso, Anregurutta Abdurrahman Ambo Dalle dihadapkan pada kondisi bangsa Indonesia yang sedang dalam masa merebut dan mempertahankan kemerdekaan. Gema perjuangan bergelora di seluruh pelosok Tanah Air.

Melihat kondisi ini, Ambo Dalle terpanggil untuk membenahi sistem pendidikan yang nyaris terbengkalai. Ia sadar, selain bertempur melawan penjajah dengan senjata, berperang melawan kebodohan pun sama pentingnya. Sebab, kebodohanlah salah satu yang menyebabkan Indonesia terbelenggu dalam kolonialisme selama berabad-abad.

Namun, usaha yang dirintis Ambo Dalle ini sempat mengalami kendala ketika terjadi Peristiwa Korban 40 Ribu Jiwa di Sulawesi Selatan. Tentara sekutu (NICA) di bawah komando Kapten Westerling mengadakan pembunuhan dan pembantaian terhadap rakyat Sulawesi Selatan yang dituduh sebagai ekstremis.

Peristiwa tersebut membawa dampak bagi kegiatan MAI Mangkoso. Banyak santri, yang ditugaskan oleh Ambo Dalle untuk mengajar di cabang-cabang MAI di berbagai daerah, menjadi korban keganasan Westerling. Namun, situasi itu tidak menyurutkan semangat beliau untuk mengembangkan MAI.

Bahkan, dalam situasi seperti itu, bersama beberapa ulama alumni MAI Sengkang, ia mengadakan pertemuan alim ulama se-Sulawesi Selatan di Watang Soppeng pada 16 Rabiul Awal 1366 H/7 Februari 1947. Pertemuan itu menyepakati pembentukan organisasi yang diberi nama Darud Dakwah Wal Irsyad (DDI) yang bergerak dalam bidang pendidikan, dakwah, dan sosial kemasyarakatan. Ambo Dalle kemudian ditunjuk sebagai ketua dan Anregurutta HM Abduh Pabbajah sebagai sekretaris organisasi.

Meski disibukkan memimpin organisasi dan madrasah, Ambo Dalle tidak melalaikan kewajibannya sebagai warga negara yang taat. Ia bersama KH Fakih Usman dari Departemen Agama (Depag) Pusat dipercayakan oleh Pemerintah RI untuk membenahi dan merealisasi pembentukan Departemen Agama wilayah Sulawesi. Tugas itu dapat dilaksanakannya dengan baik. Kepala Depag yang pertama diangkat adalah KH Syukri Gazali, sedangkan Ambo Dalle diangkat menjadi kepala Kantor Urusan Agama Kabupaten Pare Pare pada 1954.

Menurut Prof KH Ali Yafie, salah seorang santri Ambo Dalle, apa yang telah dilakukan oleh gurunya itu selama berpuluh-puluh tahun di bumi Bugis pada khususnya dan bumi Sulawesi pada umumnya adalah sebuah gerakan pembaruan membangun benteng tauhid. Dengan kata lain, yang dikembangkan Ambo Dalle melalui program dakwah, pendidikan, sosial, dan kebudayaan tersebut sesungguhnya bagian dari jihad, ijtihad, dan mujahadah untuk membangun ‘budaya tauhid’.

Keteguhan sikap Ambo Dalle tak lekang di setiap peristiwa dan pergolakan yang ia lalui dalam perjalanan hidupnya. Ketika terjadi pemberontakan G-30 S/PKI, Ambo Dalle yang ketika itu berdomisili di Pare Pare tak bergeming dan tetap kukuh dengan prinsip dan keyakinannya. Pada waktu itu, dia berpesan kepada santrinya agar tetap berpegang teguh pada akidah Islam yang benar, jangan terpengaruh dengan gejolak yang terjadi dalam masyarakat.

Kitab karyanya
Sebagai seorang ulama, Ambo Dalle banyak mengupas berbagai persoalan yang menyangkut hampir semua cabang ilmu agama dalam karya-karya tulisnya. Di antaranya adalah tasawuf, akidah, syariah, akhlak, balaghah, dan mantik. Semua itu tercermin lewat karangan-karangannya yang berjumlah 25 judul buku.

Salah satu karyanya yang dikenal luas adalah kitab Al-Qaulu as-Shadiq fi Ma’rifati al-Khalaqi yang memaparkan perkataan yang benar dalam mengenali Allah SWT dan tata cara pengabdian terhadap-Nya. Menurutnya, manusia hanya dapat mengenal hakikat pengadian kepada Allah jika mereka mengenal hakikat tentang dirinya.

Untuk mengagungkan Allah, tidak hanya berbekal akal logika, tapi juga dengan melakukan zikir yang benar sebagai perantara guna mencapai makrifat kepada Allah. Meskipun, harus diakui bahwa logika harus dipergunakan untuk memikirkan alam semesta sebagai ciptaan Allah SWT. Dalam berzikir, harus dilakukan sesuai dengan dalil-dalil naqli (Alquran dan hadis). Yakni, dilakukan dengan hati, istikamah, dan tidak boleh goyah.

Pendirian dan sikap akidah tercermin dalam kitab Ar-Risalah Al-Bahiyyah fil Aqail Islamiyah yang terdiri atas tiga jilid. Keteguhan pendiriannya tentang sesuatu yang telah diyakini kebenarannya tergambar dalam kitabnya Maziyyah Ahlu as-Sunnah wa al-Jama’ah.

Yang membahas bahasa Arab dan ushul-ushul-nya tertulis dalam kitab Tanwiru at-Thalib, Tanwiru at-Thullab, dan Irsyadu at-Thullab. Ilmu balaghah (sastra dan paramasastra) dibahas dalam karyanya yang berjudul Ahsanu al-Uslubi wa-Siyaqah, Namuzajul Insya’i, yang menerangkan kosakata dan cara penyusunan kalimat bahasa Arab. Kitab Sullamu al-Lughah menerangkan kosakata, percakapan, dan bacaan.

Beliau juga mengarang pedoman berdiskusi dalam bahasa Arab, yakni kitab Miftahu al-Muzakarah dan tentang ilmu mantik (logika) dalam kitab Miftahu al-Fuhum fi al-Mi’yarif Ulum.

Tinggalkan komentar

Filed under ilmu balagoh, ilmu fiqih, ilmu mantiq, ilmu nahwu, ilmu sorof, ilmu tafsir, islam nusantara, peradaban islam, sastra arab, tokoh

Muslim Portugal Membina Toleransi

Portugal merupakan negara sekuler. Seperti halnya di banyak negara Eropa, mereka memisahkan secara tegas aspek keagamaan dengan pemerintahan. Meski begitu, negara tetap memberikan perhatian terhadap kehidupan agama dan hubungan antarumat beragama.

Ada dua aturan pokok yang berlaku: Pertama, perjanjian khusus ( concordata ) tahun 1940 dengan Keuskupan Roma. Hal itu terkait mayoritas penduduk (84,5 persen) menganut agama Katolik Roma.

Kedua, undang-undang kebebasan beragama. Diterbitkan sejak 2001, peraturan itu bertujuan memberikan pengakuan serta hak-hak umat agama lain yang selama ini tinggal di Portugal.

Maklum saja, sebagai negara kolonial pada masa lampau, Portugal memiliki kedekatan dengan negara-negara eks jajahannya. Banyak penduduk negara jajahan yang bermigrasi ke Portugal, tentu dengan membawa serta tradisi, identitas, maupun agama yang mereka anut.

Portugal pun menjelma menjadi negara multietnis dan multiagama. Terdapat komunitas warga Afrika, Amerika Latin, hingga Asia di sana. Pun halnya dengan agama, ada pemeluk Hindu, Buddha, Sikh, Yahudi, serta Islam.

Jumlah umat Muslim diperkirakan mencapai 30 ribu jiwa. Mereka berasal dari berbagai etnis, terutama dari Mozambik, Kenya, Makao, Pulau Goa di India, bagian timur Indonesia, dan keturunan orang-orang Muslim India.

Tak ketinggalan kaum Muslimin yang datang dari Afrika Barat dan Timur Tengah, seperti Mesir, Maroko, dan Aljazair. Ada pula para mualaf Portugal walaupun jumlahnya tidak terlampau banyak.

Kedatangan imigran Muslim ke Portugal mulai berlangsung selepas Perang Dunia II. Momen penting terjadi pada 1968, yakni untuk pertama kalinya didirikan sebuah lembaga Islam di Lisabon bernama al-Jamaah al-Islamiyyah lilisybunah.

Melalui lembaga ini, berbagai aktivitas keagamaan umat dapat dikoordinasikan sehingga lebih terarah. Selain itu, lembaga tersebut juga menjadi bukti eksistensi umat semakin diakui.

Seiring makin meningkatnya arus imigran Muslim ke negara ini di era tahun 70-an, pemerintah bersedia memberikan sebidang tanah di ibu kota Lisabon untuk dimanfaatkan membangun masjid dan Islamic Center.

Butuh waktu untuk menyelesaikan pembangunan masjid yang cukup besar dan representatif. Hingga pada 29 Maret 1985, harapan umat Muslim Portugal untuk memiliki masjid raya terwujud.

Peresmian Masjid Agung Lisabon kala itu dihadiri oleh presiden Portugal, perdana menteri, pejabat sipil, dan militer serta diplomat dari negara-negara Islam. Masjid ini dibangun atas bantuan dari sejumlah negara Islam, antara lain Arab Saudi, Kuwait, Uni Emirat Arab, Libya, Pakistan, Lebanon, Oman, Mesir, Yordania, dan Iran.

Umat berharap, keberadaan masjid itu akan mempererat hubungan antaragama di Portugal. Dengan demikian, toleransi umat beragama bisa lebih ditingkatkan di masa mendatang.

Periode tahun 80 sampai 90-an bisa dikatakan menjadi masa-masa penuh harmoni dalam kehidupan masyarakat di Portugal. Umat Islam dan umat agama lain bisa melaksanakan peribadatan dengan leluasa.

Masjid, mushala, dan sekolah Islam pun banyak didirikan. Portugal lantas memiliki dua masjid jami dan 17 mushala, sebagian besar terletak di Lisabon, Coimbra, Filado, Evoradi, dan Porto.

Sekolah Dar al-Ulum al-Islamiyyah melengkapi sarana pendidikan di Lisabon. Sekolah ini setingkat dengan sekolah menengah pertama dan menengah atas.

Di samping itu, sejumlah masjid dan mushala turut membuka kelas halaqah tahfiz Alquran al-Karim, bahasa Arab, dan ilmu-ilmu Islam. Kaum Muslim juga menerbitkan sejumlah jurnal berbahasa Portugal dan berbahasa Arab seperti majalah Islam.

Pada milenium baru, kondisinya berubah 180 derajat. Peristiwa 11 September 2001 di Amerika Serikat (AS), berimbas terhadap umat Islam di seluruh dunia, tak terkecuali di Portugal.

Harmonisasi terusik. Hal itu bukan disebabkan pembatasan-pembatasan dari pemerintah, melainkan dari sikap sebagian warga setempat yang mengaitkan Islam dengan kekerasan.

Sebuah kolom dalam surat kabar The Public agaknya bisa mewakili suasana Islamofobia yang sedang melanda. Tulisan Dr Miguel Sousa Tavares, cendekiawan setempat, misalnya, memuat judul yang dinilai provokatif; Islam, Terror and Lies.

Islam yang sebenarnya
Tokoh lainnya tak jarang mengeluarkan pernyataan yang mengarah pada intoleransi. Awal tahun 2009, seorang pemimpin agama di Lisabon sempat memicu kontroversi baru atas komentarnya terkait perkawinan antara Muslim dan non-Muslim.

Dia menyarankan agar wanita non-Muslim berpikir dua kali sebelum menikah dengan pria Muslim. ”Anda hanya dapat berdialog dengan orang yang bersedia berdialog. Dengan umat Muslim, dialog sulit dilakukan,” kata pemimpin agama ini.

Sejumlah kelompok hak asasi manusia memberikan kecaman. Mereka menilai pernyataan itu tidak sejalan dengan semangat toleransi antarumat beragama yang sedang terus dibina.

Demikian halnya, umat Islam mengaku terkejut dengan komentar itu. Namun, umat tidak lantas bereaksi berlebihan. Mereka justru memilih menanggapi tudingan, stigma, dan kekhawatiran seperti itu tanpa emosi.

Menggiatkan dialog lebih diutamakan. Forum intelektualitas tersebut akan sangat berperan dalam upaya memberikan penjelasan tentang nilai-nilai maupun ajaran Islam yang sebenarnya.

Salah satunya seperti dilakukan majalah Al Furqan. Lewat tulisan Mohammed Youssuf Adamqy, pimpinan Al Furqan, misalnya, mereka menjadikannya surat terbuka untuk menjawab artikel The Public tadi.

Menurut Mohammed Youssuf, peristiwa pengeboman yang terjadi, haruslah dilihat secara orang per orang, dan jangan langsung digeneralisasi bahwa Islam adalah agama teror. Sebaliknya, dia mengungkapkan bahwa inti ajaran Islam justru menekankan cinta kasih.

Dan, Muslim Portugal kini terus berjuang guna menepis citra negatif Islam. Pesan-pesan penuh kedamaian serta yang menjauhkan agama dari tindakan teror, bisa ditemui di masjid-masjid dan Islamic Center di Portugal.

Islam Pernah ‘Menguasai’ Portugal

Bila ditarik lebih ke belakang, Islam dan Portugal sebenarnya memiliki sejarah yang panjang. Dan, sejarah itu berkaitan erat dengan penguasaan kaum Muslimin di Andalusia antara abad 7 dan 8 M.

Situs wikipedia menyebutkan, tentara Islam pernah menaklukkan Portugal di bawah pimpinan panglima Musa bin Nashir. Kaum Muslim kemudian menyebut wilayah itu al Garb al Andalus (Andalusia Barat).

Penguasaan ini diteruskan oleh Abdul Aziz, putra Musa bin Nashir. Di bawah kendalinya, tentara Islam secara bertahap menaklukkan kawasan yang lebih luas sehingga Portugal takluk.

Menurut situs historymedren, wilayah itu lantas dibagi dua oleh tentara Islam, yakni yang berada di sepanjang Sungai Duoro dan Sungai Tagus. Kawasan di Sungai Duoro beriklim dingin serta sulit membuka lahan perkebunan, dan ini tidak disukai kaum Muslim.

Ini berbeda dengan wilayah Sungai Targus yang suhunya lebih hangat serta tanahnya subur. Kaum Muslim kemudian mengonsentrasikan keberadaan mereka di sini dan selanjutnya ‘menghidupkan’ kota-kota yang ada.

Sebagian penduduk setempat pun beralih ke agama Islam. Dan, oleh pemerintah kekhalifahan, beberapa tokoh masyarakat (yang menjadi mualaf) diangkat menduduki jabatan di tingkat lokal.

Meski demikian, kaum Muslimin tetap memberikan kebebasan bagi penduduk yang beragama non-Muslim. Orang-orang Yahudi tidak diusik, bahkan diberikan peranan penting pada sektor perdagangan dan ekonomi.

Berangsur, wilayah al Garb al Andalus tumbuh dengan pesat di berbagai bidang. Sekolah-sekolah yang mempelajari ilmu pengetahuan umum dan agama banyak didirikan, ladang pertanian memberikan panen memuaskan, irigasi dibangun di banyak tempat dan sebagainya.

Pendek kata, kemakmuran tercipta. Tak hanya itu, umat Islam juga mengenalkan seni arsitektur dan kaligrafi yang bernilai tinggi, dan hal tersebut diterapkan pada sejumlah bangunan.

Bahasa Arab digunakan dalam komunikasi sehari-hari, baik di kota maupun di desa. Sejarawan termuka, Al Idrisi, mengisahkan, ketika itu penduduk Kota Selpa yang non-Muslim sekalipun, berbicara dengan bahasa Arab.

”Pengaruh itu masih bisa dirasakan hingga kini, di mana terdapat sekitar 600 kosakata Arab yang diadopsi ke dalam bahasa Portugis,” urai situs historymedren .

Selama 250 tahun situasi kondusif berlangsung. Sampai memasuki paruh abad ke-11, para penguasa lokal yang merasa sejahtera, tidak lagi setia kepada kekhalifahan. Mereka membentuk raja-raja kecil, seperti di Badajoz, Merida, Lisbon, dan Evora.

Perpecahan terjadi. Situasi tersebut membuka peluang bagi kaum Visigoth Kristen yang selama ini hidup di kawasan pegunungan untuk berkonsolidasi. Mereka lantas melakukan ofensif dan berlanjut hingga lepasnya kekuasaan Islam di Andalusia.

Tinggalkan komentar

Filed under budaya

Moral Islam

Oleh Prof Dr H Fauzul Iman MA

Al-Ghazali menyebut moral Islam sebagai tingkah laku seseorang yang muncul secara otomatis berdasarkan kepatuhan dan kepasrahan pada pesan (ketentuan) Allah Yang Mahauniversal. Seorang Muslim yang bersikap demikian akan mengarahkan pandangan hidupnya pada spektrum yang luas, tidak berpandangan sempit ataupun eksklusif. Ia dapat menerima realitas sosial yang beragam dan memupuk pergaulan dengan berbagai kalangan tanpa membatasi diri dengan sekat agama, kultur, dan fanatisme kelompok.

Inilah yang dimaksud dengan firman Allah SWT, ”Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” (QS Al-Hujurat [49]: 13).

Ayat tersebut mengisyaratkan bahwa moral Islam adalah takwa itu sendiri. Artinya dengan kekuatan takwanya, seorang Muslim mampu menanamkan moral Islam di tengah-tengah perbedaan sosial dan budaya masyarakat secara toleran, demokratis, terbuka, dan tanpa mengklaim dirinya paling benar.

Ulama Sufi membagi moral ke dalam tiga jenis, yaitu moral agama, moral undang-undang, dan moral lingkungan sosial. Dari ketiga jenis moral tersebut, yang paling dominan adalah moral agama dan menjadi sumber acuan bagi kedua moral yang lainnya. Itulah sebabnya, ajaran Islam selalu menekankan kepada semua umatnya agar senantiasa berpegang teguh pada moral Islam.

Sayangnya, fakta yang terjadi justru sebaliknya. Banyak orang yang tunduk pada selain moral agama. Dari kalangan penguasa, pengusaha, dan politisi, misalnya, masih banyak yang tunduk pada tatanan sistem politik yang hegemonik demi keuntungan pribadi, ketimbang membela rakyat dan masyarakat lemah dari ketertindasan.

Kasus lainnya, ada seorang agamawan yang dahulunya menjadi panutan masyarakat, pribadinya baik, tutur katanya lembut, sikapnya sopan, dan tidak pernah lupa mengenakan simbol-simbol keagamaan, kini justru berubah. Ia tenggelam dalam dunia kekerasan dan dunia kemewahan setelah menceburkan diri dalam lingkungan pergaulan yang hedonis.

Sebagai bangsa yang religius, sepatutnya kita memperkuat moral Islam yang bersifat universal dengan tetap melestarikan moral sosial dan lingkungan yang substansinya sejalan dengan moral Islam. Dengan cara demikian, kita berharap semua bentuk perilaku yang menodai akhlak dan nilai-nilai luhur agama dan bangsa dapat dieliminir. Semoga!

Tinggalkan komentar

Filed under Uncategorized