Deekstremisasi Total


Ekstremisme bukan gejala tiba-tiba yang muncul di ruang hampa. Segala sesuatu ada sebab musababnya. Hanya dengan menemukan faktor penyebab secara tepat dan menyeluruh, penyembuhan bisa dilakukan secara akurat dan juga menyeluruh.

Termasuk ekstremisme yang bermuara pada aksi terorisme dengan klaim jihad. Semua manusia bernalar sehat pasti mengutuk aksi biadab itu, yang bukan saja menghancurkan diri pelaku, tetapi sekaligus orang lain yang tidak ada urusan apa pun dengan pelaku.

Langkah Detasemen Khusus 88 jelas berguna dan perlu terus dilanjutkan guna memotong terorisme sampai ke akar-akarnya. Namun, menyederhanakan ekstremisme-terorisme hanya sebagai masalah keamanan jelas jauh dari memadai.

Pernyataan Kepala Polri agar kita tidak euforia dengan terbunuhnya Noordin M Top dan beberapa kaki tangannya sudah tepat. Karena ibarat kanker ganas, sel-sel ekstremisme-terorisme sudah merambah ke berbagai jaringan tubuh kita. Tanpa terapi menyeluruh dan tuntas pasti akan menggejala lagi, dan lagi.

Indonesia sebagai negara dengan umat Islam terbesar dengan tingkat keterbukaan amat tinggi sangat rentan dengan penetrasi berbagai paham asing, termasuk yang ekstrem dan antagonis. Tanpa langkah aksi pencegahan menyeluruh, kemungkinan yang sangat buruk bisa terjadi.

Pohon ekstremisme

Ibarat pohon, ekstremisme bertumbuh karena tiga hal: tafsir keagamaan sempit sebagai benih; kemiskinan dan keterbelakangan umat sebagai media; dan perasaan terpinggirkan yang berlebihan sebagai air yang menyirami.

Tentang faktor pertama, tafsir keagamaan sempit, sepotong-sepotong, dan lepas konteks, memang bukan monopoli satu agama. Di setiap agama ada bahaya laten ini, terutama yang terlalu memutlakkan ayat suci, plus tendensi legalisme dan formalisme yang menyala-nyala.

Cirinya adalah kebiasaan mengklaim diri sebagai satu-satunya ”yang benar dan berhak hidup”, sambil menuding pihak lain sebagai ”yang tersesat dan harus dieliminasi”. Mereka mengira pemahaman agama di benaknya sama absolut dengan kitab suci. Seolah otak mereka adalah loh mahfudh yang bersisi kebenaran mutlak dan asali.

Paham keagamaan keras dengan gen tertentu bisa amat kuat perannya bagi tumbuhnya pohon ekstremisme-terorisme. Seperti kaktus, ia bisa tumbuh di padang pasir hampir tanpa siraman air hujan sepanjang tahun.

Faktor kedua, semua orang tahu siapa Misno, Salik, Asmar Latin, Dani Dwi Permana, dan Nana Ikhwan Maulana. Mereka adalah anak-anak manusia yang karena miskin dan lemahnya pendidikan merasa amat pesimis menemukan kebahagiaan ”surgawi” melalui kiprah hidupnya.

Tiba-tiba datang seorang ”ideolog” seperti Noordin yang dengan beberapa potong ayat mencuci otak mereka sekaligus menjanjikan ”surga” bukan dengan pergulatan hidup, tetapi dengan kematian, bunuh diri sebagai syahid. Sementara Noordin, Azhari, Az-Zawahiri, Osama bin Laden, para penganjur bunuh diri yang berkecukupan dan berkeahlian, sebisa mungkin tetap menyukai jalan ”surgawi” dengan hidup, bukan dengan kematiannya.

Faktor ketiga, perasaan terpinggirkan yang muncul dari konflik yang absurd dan tak seimbang sebagai nutrisi atau air yang menyirami. Meski ini bukan faktor utama, kita sepakat tentang dua kategori aneka terorisme lokal dan global. Disebut terorisme lokal jika mengacu isu konflik lokal, disebut terorisme global jika mengacu isu konflik tak seimbang di level global.

Tiga penanggung jawab

Ketiga faktor munculnya ekstremisme-terorisme itu masing-masing ada penanggung jawabnya. Pertama, untuk pemahaman keagamaan ekstrem, penanggung jawabnya adalah ulama dan pemimpin agama bersangkutan. Jika tak ingin Islam dibajak kaum teroris, para pemimpin Islam harus bekerja keras mengajarkan dan meneladankan umatnya keberislaman yang lapang dada, percaya diri dan rendah hati, serta menghormati kebinekaan ciptaan-Nya.

Pada yang saat sama, aneka ormas Islam berhaluan moderat wajib membenahi diri, meluruskan diri, istiqamah mendampingi umatnya, jangan sampai disusupi unsur-unsur ekstrem untuk mengkhotbahkan kebencian, permusuhan terhadap sesama.

Meski punya kewenangan luas, negara atau pemerintah tidak pada tempatnya memasuki wilayah substansi pemahaman agama selain sebagai fasilitator atau pendukung. Biarlah wilayah ini menjadi wilayah ulama masing-masing ormas agama dengan standar keilmuan, kearifan, dan keteladanan di atas rata-rata.

Faktor kedua, kemiskinan serta keterbelakangan umat, penanggung jawab utamanya adalah para pejabat dan pelaksana kebijakan publik yang langsung bersentuhan dengan pemenuhan hajat hidup rakyat banyak, terutama di lapisan bawah. Kekurangseriusan pemerintah dalam memerangi kemiskinan dan kebodohan yang diderita sebagian besar masyarakat merupakan daya tarik bagi virus-virus radikalisme dan ekstremisme untuk bercokol di sana.

Untuk mengatasi problem kemiskinan dan kebodohan ini, pemerintah juga perlu bersinergi dengan ormas-ormas keagamaan untuk mendorong partisipasi yang luas terutama di akar rumput dengan berbagai kegiatan produktif yang dapat mempercepat turunnya angka kemiskinan dan tumbuhnya tingkat kesejahteraan bagi rakyat di lapis bawah.

Faktor ketiga, konflik adu kekuatan yang absurd dan tidak seimbang, baik yang bersifat lokal maupun global. Penanggung jawab utama faktor ketiga ini adalah para penguasa yang memiliki otoritas untuk mengobarkan perang sekaligus memadamkannya. Tekad bersama untuk melawan ekstremisme dan terorisme tidak akan berbuah banyak tanpa kesungguhan para pemegang kekuasaan mengendalikan nafsu kekuasaan yang hegemonik dalam diri mereka.

Hanya dengan kesungguhan ketiga pihak untuk memikul tanggung jawab masing-masing, ancaman radikalisme-terorisme dapat dicegat sejak dini, bahkan dari akar-akarnya. Tidak mudah, tetapi tidak mustahil asal kita mau.

Masdar Farid Mas’udi Ketua PBNU

Tinggalkan komentar

Filed under opini

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s