EMOSI GEOPOLITIK


Pada 25 September G20 baru saja mengukuhkan diri sebagai forum utama kerjasama internasional pada KTT ke-III di Pittsburgh 24-25 September 2009 menggantikan peranan G8. Tapi baru 10 hari, pada 6 Oktober 2009 Robert Fisk menulis di the Independent bahwa negara negara Arab Gulf Cooperation Council dengan cadangan devisa US$ 2,1 trilyun bersekongkol dengan Prancis, China, Rusia bahkan Jepang untuk mendrop dollar dari transaksi minyak dunia dan mengganti dengan keranjang mata uang Euro, Yuan, Yen, emas dan mata uang dinar GCC.

Para Menkeu dan gubernur bank sentral Rusia, China, Jepang dan Brazil mengkoordinasi rapat rahasia untuk transisi 9 tahun (2009 – 2018) dari dollar ke non dollar. China antusias karena 60% impor minyak berasal dari Timur Tengah, Irak, Sudan, Libya dan terakhir kontrak US$ 8 milyar dengan Iran. 10 % impor Timteng kini berasal dari China. Gubernur Bank Central Europa, Jean Claude Trichet menghimbau RRT untuk membiarkan apresiasi dan revaluasi Yuan. Iran sudah mulai menukar cadangan devisa dari dollar ke euro bulan September.

Perkembangan real politik diluar forum resmi G20 ini harus dipahami sebagai fenomena geopolitik yang bernuansa konflik antar peradaban. Dominique Moisi pakar politik dari French Institute of International Affairs baru saja menulis buku the Geopolitics of Emotion. Eropa Barat dan AS hidup dalam culture of fear merespond culture of humiliation dan culture of hate dari dunia “Islam yang dicerminkan oleh radikalis teroris” yang membajak mainstream Islam melancarkan perang total terhadap “kafir”. Ditengah konflik itu sebetulnya Asia mewakili culture of hope, memberi pencerahan untuk aktif dalam pembangunan ekonomi mengentaskan masyarakat dari kemiskinan.

Buku Dominique Moisi memuat dua skenario pesimis dan optimis. Yang pertama memperingatkan bahwa perang terror dan aksi terorisme serta konflik Israel – Palestina akan terus berlanjut hingga 2025 karena tidak ada pencerahan dan rekonsiliasi dari para pihak yang bertikai. Skenario kedua  ialah skenario optimis bahwa kubu Barat dan islam serta Israel – Palestina akan menjalin perdamaian dan dunia mencerminkan harmoni antar peradaban. Inilah inti pidato Presiden Yudhoyono di Harvard 29 September 2009. Towards Harmony Among Civilizations. Memang kurang selangkah lagi untuk meluncurkan terobosan diplomatik dengan menawarkan bali sebagai veneu KTT Perdamaian Timur Tengah menghadirkan Presiden AS, Presiden palestina dan PM Israel dengan Presiden RI sebagai tuan rumah. Dengan demikian Indonesia dan Pancasila akan melejit menjadi model the culture of conscience dari dunia pluralis yang multietnis, multikultur dan multipolar.

Situasi global yang tidak menentu diluar forum G20 harus diwaspadai tapi kita tetap harus cerdas dalam memanfaatkan posisi di G20 untuk memberdayakan Indonesia ditengah percaturan geopolitik yang demikian cair, flexible dan jauh lebih sulit dari medan dagang sapi elite domestik. Harapan kita tentu, elite politik mampu memainkan kartu diplomasi global dalam kemelut geopolitik secara canggih. Agar kita tidak hanya jadi jago kandang saling peras atau saling mengemis, tapi konyol dalam diplomasi global. Kabinet jelas memerlukan think tank dan Lemhanas yang diupgrade bisa menjadi braintrust geopolitik untuk comprehensive national strategy yang mengacu pada pencapaian cita-cita Visi Indonesia 2025.


oleh CRISTIANTO WIBISONO

Tinggalkan komentar

Filed under geoekonomi-politik

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s