VISI 2030; Prioritaskan Tiga Kluster Industri


Jakarta – Pemerintah sebaiknya memprioritaskan tiga kluster industri untuk menjadi unggulan ekspor. Ketiga kluster itu adalah industri berbasis kehutanan dan pertanian, industri berbasis maritim dan kelautan, serta industri berbasis budaya.

Usulan Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia itu disampaikan Wakil Ketua Umum Kadin Indonesia Bidang Industri, Riset, dan Teknologi Rahmat Gobel dalam diskusi putaran terakhir finalisasi Roadmap 2015 dan Visi Industri 2030 bersama pimpinan media massa nasional, Selasa (13/10) di Jakarta.

Ditegaskan, perekonomian Indonesia membutuhkan industri unggulan ekspor sebagai pencetak devisa. Kebutuhan terhadap pertumbuhan devisa sangat besar, antara lain untuk memperkuat ketahanan ekonomi nasional menghadapi gejolak nilai tukar dan arus dana asing.

”Saat ini memang devisa kita sudah mencapai 62 miliar dollar AS. Ini tertinggi sepanjang sejarah. Namun, kita perlu lebih besar lagi agar perekonomian nasional benar-benar kuat dalam menghadapi risiko gejolak global,” kata Rahmat.

Namun, menurut pengamat ekonomi Faisal Basri, cadangan devisa 62 miliar dollar AS relatif lebih kecil dibandingkan dana jangka pendek yang dimiliki investor asing. Itu akan sangat rentan bagi perekonomian nasional.

Hitung kembali

Guna mengembangkan industri berbasis kehutanan, pemerintah, menurut Ketua Asosiasi Panel Kayu Indonesia Robianto, harus melakukan penghitungan kembali kawasan dan potensi tegakan hutan alam. ”Ini terutama untuk kepentingan industri furnitur yang sangat potensial,” katanya.

Ketua Umum Asosiasi Industri Mebel dan Kerajinan Indonesia Ambar Polah Tjahyono menjelaskan, perdagangan furnitur rata-rata naik 7,5 persen per tahun. Tahun 2008, nilai ekspor 2 miliar dollar AS, sementara nilai ekspor produk kerajinan 650 juta dollar AS.

Selain perlu sentuhan teknologi dan desain yang inovatif, pengembangan industri furnitur, kata Ambar, butuh bantuan pemasaran dari pemerintah.

Di sektor perikanan, kata Direktur Eksekutif Gabungan Pengusaha Perikanan Indonesia Bambang Suboko, untuk menjadi andalan ekspor butuh segera dicari jalan keluar bagi masalah permodalan yang dihadapi sektor ini.

Sementara itu, Ketua Gabungan Pengusaha Jamu Charles Saerang menyayangkan minimnya peran pemerintah dalam mendorong industri berbasis budaya. Ini antara lain terjadi di industri jamu. ”Bagaimana mungkin tercapai target devisa tahun 2015 dari produk jamu Rp 20 triliun tanpa bantuan pemerintah pada UKM,” katanya. (OSA)

Kompas, Rabu, 14 Oktober 2009 | 03:57 WIB

Tinggalkan komentar

Filed under ekonomi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s