FRANKFURT BOOK FAIR 2009


Saling Memperkaya dari Perbedaan. Pameran Buku Internasional Ke-16 di Frankfurt, Jerman, dibuka Selasa (13/10) petang oleh Kanselir Jerman Angela Merkel didampingi Wakil Presiden China Xi Jinping. Pameran yang berlangsung sampai 18 Oktober itu diikuti lebih dari 7.000 peserta dari lebih dari 100 negara.

Kali ini Indonesia absen, tetapi pameran tetap dimanfaatkan untuk membuat perjanjian-perjanjian hak cipta, membicarakan dan mempromosikan segala pernik yang berurusan dengan industri buku, termasuk e-book yang pada tahun-tahun sebelumnya tidak seramai sekarang.

Menurut Wapres Jinping dalam sambutannya, karya tulis, khususnya sastra, dapat menyumbang terhadap pembangunan dunia yang lebih harmonis. Pengaruh kebudayaan mengatasi ruang, waktu, dan batas-batas negara.

”Perbedaan dalam ideologi tidak harus menghancurkan kemajuan, tetapi saling memperkaya,” tegasnya.

China, yang tahun ini merupakan tamu kehormatan (guest of honor), mengusung tema tradisi dan inovasi (tradition and innovation), menggarisbawahi perlunya saling pengertian antara China dan Barat.

Lebih sepi

Meskipun hari pertama belum jadi tolok ukur suksesnya pameran, hari pertama, Rabu (14/10) dirasa lebih sepi daripada hari pertama tahun lalu.

Gejala penurunan itu sudah diperkirakan. Dengan kemajuan pesat teknologi informasi, pameran Frankfurt tak lagi menjadi satu-satunya sarana berkomunikasi dan melakukan transaksi. Mengunjungi pameran lebih dirasakan sebagai kelanjutan komunikasi lewat telepon, internet, dan sarana komunikasi lain. Pameran hanya sarana bertemu secara fisik.

Melihat sepintas delapan hall, penerbit-penerbit besar dari Inggris dan AS, seperti Pearson, Oxford, McGraw Hill, HaperCollins, dan Penguin, tetap mendominasi dengan luasnya gerai. Hall mereka paling ramai, melebihi hall 3 dan 4 yang diisi para penerbit Jerman, hampir semua buku berbahasa Jerman.

Penampilan China tahun ini berbeda dibandingkan dengan tahun 2007, yang tampil dengan 50 penerbit dan memakan tempat 1.000 meter persegi, tampil lain. Menempati hall Forum, hall 6 dan hall 3, China mengombinasikan empat unsur kebudayaan China, yaitu kertas, air, buku, dan ruang. Keempat unsur tersebut merupakan pendukung karakter budaya China. Tema tradisi dan inovasi memberi inspirasi tentang transisi buku dari cetak ke digital yang dirasa sebagai keniscayaan masa depan dunia.

Beberapa perusahaan dari Korea Selatan dan Jerman, misalnya, menawarkan program ”dunia digital baru” dan ”pembaca modern dengan tulisan tangan dan keyboard”. Menurut keyakinan mereka, masa depan e-book akan mendukung program ”Bumi hijau” dan tingkat kepraktisan tinggi. Dengan kemampuan memuat 100 judul buku lebih dalam satu board, ini tentu memudahkan orang membaca buku tanpa terbebani berat buku.

Meski sepi, Jerman tidak surut gairahnya untuk promosi dan memperoleh pemasukan. Dengan tiket masuk per orang 56 euro (sekitar Rp 800.000)— harga beli di tempat 72 euro—jika pameran dikunjungi 283.293 orang seperti tahun 2007, bisa dihitung uang yang diperoleh dari tiket masuk dan sewa gerai.

Tampaknya bukan uang yang menjadi tujuan utama. Yang mau disasar Jerman, umumnya, dan Pemerintah Kota Frankfurt, khususnya, adalah prestise. Jerman mau menunjukkan konsistensi profesionalitas sejak 1949 (pameran pertama kali diselenggarakan) hingga tahun ini. Selama 61 tahun lebih prestasi dan prestisenya tak tergusur walau di berbagai negara diadakan pameran internasional, seperti di Abu Dhabi pada 2-7 Maret 2010. (ST SULARTO dari Frankfurt, Jerman)

Tinggalkan komentar

Filed under humaniora

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s