Hakikat tasawuf


Ada tiga unsur dalam diri manusia yaitu: ruh, akal, dan jasad. Kemulian manusia dibanding dengan makhluk lainnya adalah karena manusia memiliki unsur ruh ilahi. Ruh yang dinisbahkan kepada Allah. SWT sebagaimana firman Allah SWT dalam surat al-Hijr ayat 29 yang artinya : “Maka apabila Aku telah menyempurnakan kejadiannya, dan telah meniupkan ruh (ciptaan)-Ku, maka tunduklah kamu kepadanya dengan bersujud”.
Ruh Ilahi inilah yang menjadikan manusia memiliki sisi kehidupan rohani yang dapat diistilahkan dengan makna tasawuf. Dimana kecondongan ini juga dimiliki oleh semua manusia dalam setiap agama. Karena perasaan itu merupakan fitrah manusia. Secara umum dapat juga kita ibaratkan makna tasawuf dengan filsafat kehidupan dan metode khusus sebagai jalan manusia untuk mencapai akhlak sempurna, menyingkap hakikat dan kebahagiaan jiwa.
Yang membedakan antara sufi dengan sufi yang lainnya adalah tatacara riyadhohnya (latihan) yang kadang tidak luput dari pengaruh luar. Seperti tercemar oleh pemikiran filsafat sesat yang berkembang saat itu, atau gerakan-gerakan tatacara ibadah agama lain, dan sebagainya.
Tasawuf pada mulanya adalah bagian dari ajaran zuhud dalam islam. Yaitu lebih berkonsentrasi dalam pendekatan diri kepada Allah SWT dengan ketaatan dan ibadah. Semakin jauh dari zaman Rasul SAW semakin banyak aliran-aliran tasawuf berkembang. Dari perbedaan tatacara yang digunakan oleh masing-masing aliran itu tasawuf menjadi istilah yang terpisah dari ajaran zuhud. Karena tasawuf telah menjadi aliran yang memiliki makna khusus sebab kekhususan praktek ajaran yang ditempuhnya. Mungkin dapat diibaratkan sebagai madrasah (lembaga pendidikan) yang masing-masing memiliki tata cara khusus dalam menggembleng murid-muridnya untuk mencapai taqarub kepada Allah SWT. Dari pengertian ini maka tidak setiap ahli ibadah dapat disebut sufi tapi sufi diharapkan menjadi ahli ibadah. Juga tidak setiap orang yang berakhlak mulia dapat disebut sebagai sufi tapi sufi diharapkan memiliki akhlak mulia. Karena dalam ajaran tasawuf, orang bisa disebut sufi jika dia telah masuk dan terikat dalam aliran tasawuf tertentu (madrasah). Dimana dalam madrasah tasawuf terdapat guru dengan sebutan mursyid atau syeikh yang akan membimbing murid tentang tata cara bagaimana mendekatkan diri pada Allah.
Ibnu Taimiyah pernah berkomentar bahwa para sufi adalah orang-orang yang berijtihad menuju ketaatan Allah SWT seperti halnya orang-orang yang telah berijtihad dalam suatu perkara sebelumnya. Dan dalam berijtihad itu mereka ada yang salah dan ada yang benar, bahkan ada yang memang keluar dari ajaran Islam. Maka disinilah peran penting ilmu untuk menyikapi aliran tasawuf tersebut.

Korelasi antara ilmu dan tasawuf

Lebih khusus ilmu yang dimaksud disini adalah ilmu syari’at atau fiqih. Karena fiqih adalah ilmu yang membahas tentang perkara zhohir dari suatu ibadah. Fiqih hanya membahas apakah suatu ibadah itu dapat dinilai sah atau tidak. Selama ibadah itu dilakukan sesuai dengan syari”at dan rukunnya maka pelakunya telah bebas dari kewajibannya secara hukum fiqih. Fiqih tidak melihat apakah anda sudah melaksanakan ibadah itu dengan kekhusyu’an dan memperhatikan adab-adabnya atau tidak. Adapun hakikat tasawuf adalah yang memperhatikan perkara hati ketika beramal, apakah saat itu ada keterikatan hati kepada Allah atau tidak. Dengan tasawuf akan membuahkan keindahan akhlak dari fiqih (ilmu). Contohnya adalah seorang yang melaksanakan sholat akan tampak khusyuk, bacaannya indah, gerakannya indah karena hatinya terikat dengan Allah SWT sehingga merasakan pengawasan dalam setiap bacaan dan gerakannya.
Dalam tasawuf, hati memang menjadi obyek utama yang lebih diperhatikan. Karena itu keikhlasan para sufi sudah teruji dan mungkin sudah tidak dapat diragukan lagi. Disamping keikhlasan, unsur yang terpenting yang harus dipenuhi dalam setiap amal ibadah adalah unsur kesesuaian amalan tersebut dengan tuntunan atau ajaran Nabi Muhammad SAW. Dari sisi inilah aliran tasawuf banyak yang tergelincir. Sehingga banyak terlihat mengadakan praktek amalan ibadah yang kurang atau bahkan tidak sesuai dengan tuntunan sunah Nabi SAW. dalam hal ini kaum sufi bisa termasuk golongan orang yang disebut dalam surat al-Kahfi ayat 104 yang artinya : “Yaitu orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini, sedangkan mereka menyangka bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya”

Diantara kesesatan aliran tasawuf yang terlihat adalah:
1. mengambil mentah-mentah kisah-kisah yang berbau mistik dan khurafat tanpa ada landasan syari’atnya.
2. Tidak menyaring antara hadits-hadits yang shohih dan yang dho’if. Bahkan sering juga mengamalkan hadits-hadits yang maudu’.
3. Mentaati syeikhnya secara mutlak, bahkan ada yang meningkat ketaraf mengkultuskan. Menganggap bahwa syeikhnya tidak pernah jatuh pada kesalahan, sehingga semua perintahnya harus dilaksanakan.
4. Lebih meyakini dan mengikuti kata hatinya daripada mengikuti syari’at, apalagi jika diyakini itu adalah ilham, atau kasyf.
5. Tidak memperhatikan tuntunan syari’at dalam amal ibadah, zikiran, dan apa yang dianggap amal kebajikan. Seperti lebih mengutamakan zikiran yang disusun oleh syeikhnya daripada susunan dan aturan yang telah diajarkan Nabi SAW. Juga berlebihan dalam praktek ibadah (ghuluw) dan menafsirkan ayat atau hadits.

Kesalahan yang diperbuat para kaum sufi itu adalah akibat dari kurangnya perhatian mereka terhadap ilmu syari’at. contohnya lagi yaitu mereka mengangap bahwa gerakan yang menyertai zikiran itu dapat menambah kekhusyu’an dalam berzikir. Tetapi mungkin dapat kita katakan untuk menjawab anggapan ini adalah bahwa gerakan spontan ketika berzikir itu boleh saja seperti gerakan spontan ketika kita sedang menikmati membaca alqur’an. Kesalahannya adalah jika gerakan itu bukan secara spontan adanya. Tetapi gerakan itu adalah sengaja dibuat tata caranya oleh seorang syeikh dan kadang menjadi keharusan bagi anggota aliran tasawuf tersebut ketika berzikir. Karena dalam tuntunan Nabi SAW tidak ada keharusan melakukan gerakan khusus ketika berzikir. dalam kaidah disebutkan bahwa sesuatu yang mutlak (tidak terikat) jika di ikatkan maka telah menyalahi (termasuk bid’ah) dan sebaliknya bahwa sesuatu yang terikat (waktu, tempat atau tata cara) jika di mutlakan maka juga berarti bid’ah. Kesalahan sufi dalam hal zikir ini adalah mereka mengikatkan zikiran yang dimutlakan dengan gerakan atau tata cara khusus yang mengiringinya. Untuk contoh kaidah yang kedua misalnya adalah tawaf yang dilakukan orang awam pada kuburan-kuburan para wali. Bid’ah disini adalah mereka memutlakan ibadah tawaf yang sudah terikat dengan tempat yaitu hanya di ka’bah saja menjadi ibadah yang boleh dilakukan selain di ka’bah.

Contoh lainnya tentang kesalahan golongan sufi adalah tentang konsep cinta kepada Allah yang berlebihan. Ini terjadi karena kurang memperhatikan kaidah-kaidah penafsiran ayat atau hadits yang telah disepakati oleh para ulama. Ungkapan cinta yang berlebihan secara spontan mungkin dapat dimaklumkan, tapi jika ungkapan itu dijadikan konsep ajaran maka disitulah letak kesalahannya. Karena dengan begitu telah membingungkan orang awam dan bisa menyulitkan diri dengan memaksakan untuk melakukan amalan yang diluar kemampuannya. Dan ini berarti telah menyalahi ajaran Islam yang asalnya bersifat mudah dan tidak menyulitkan diri.

Pengetahuan tentang tuntunan Nabi SAW itulah yang dimaksud dengan ilmu disini. Dengan ilmu itu juga dapat menjadi penilaian, apakah aliran itu dapat diterima atau tidak (sesat). Dalam hal ini kalangan ulama sufi generasi awal sendiri menegaskan bahwa tarikat yang tidak berlandaskan ajaran murni Islam dari kitab dan sunah adalah bukan temasuk tasawuf Islam. Sebagaimana pernyataan syeikh para sufi al-Junaed bin Muhammad : “Semua aliran tarikat tertutup bagi makhluk kecuali yang mengikuti jejak Rasulullah SAW”. Berkata juga yang lain: “Aliran kita adalah terikat dengan kitab dan sunah”.
Segala bentuk ibadah dari zikir, sholat, puasa, berdoa, dan lain sebagainya itu pada asalnya adalah haram hukumnya. Karena ibadah adalah perkara yang yang hanya terbatas pada apa yang telah diperintahkan Allah SWT saja. Atas dasar ini, segala bentuk ibadah yang tidak sesuai dengan tuntunan Nabi SAW adalah sesat dan tidak dapat diterima. Sebagaimana sabda Nabi SAW: “Barang siapa yang mengerjakan amalan yang tidak berasal dari tuntunan kita, maka hal itu ditolak”.(HR. Bukhory dan Muslim)
Dengan pondasi syari’at yang kuat tasawuf ini akan lebih terjaga keabsahannya. Karena syari’at adalah petunjuk. Barang siapa yang memanfaatkan petunjuk tidak akan tersesat jalan. Sebaliknya, barang siapa yang meneluri jalan tanpa petunjuk tidak akan pernah sampai tujuan. Dari sini, jelaslah bahwa syarat kebenaran sebuah aliran adalah harus berlandaskan ilmu. Sebagimana kaidah arab yang menguatkan pernyataan ini: “barang siapa salah jalan berarti dia akan sesat”.
Imam Syafi’i membagi manusia berdasarkan hal ini menjadi tiga yaitu: ahli fiqih, sufi dan ahli fiqih yang sufi. Dalam syairnya beliau menggambarkan hubungan ilmu dan tasawuf ini:
فقيها و صوفيا فكن ليس واحد ا فإنى – و حق الله – إياك أنصح
فذلك قاس لم يذق قلبه تقى و هذا جهول كيف ذو الجهل يصلح
Seorang ahli fiqih dan sufi selayaknya tak boleh terpisah
Demi Allah aku akan menasihati kamu (tentang hal ini)
Kalau yang itu ( ahli fiqih) keras hatinya karena belum merasakan ketakwaan
Dan yang ini (sufi) bodoh, bagaimana dia bisa berbuat perbaikan jika dia bodoh

Merupakan kenikmatan jika memiliki isteri yang memahami bahwa menyiapkan sarapan dan perlengkapan suami yang akan berangkat pagi hari adalah lebih utama dari menghabiskan waktu berzikir dengan hitungan ribuan kali. Juga kenikmatan bagi seorang isteri jika memiliki suami yang memahami bahwa mencari nafkah adalah bentuk ibadah yang lebih utama dari duduk bermalasan walau sambil berzikir dengan hitungan ribuan kali. Seperti halnya pemahaman sahabat bahwa membantu menyelesaikan keperluan saudaranya adalah lebih utama dari beri’tikaf dalam masjid nabawy sekalipun.

Karakteristik kehidupan robany dalam Islam

Jika kita sepakat bahwa inti ajaran tasawuf adalah untuk mencapai kehidupan robany, maka pada hakikatnya adalah bahwa dari yang awam hingga para ualma semuanya membutuhkan pembinaan iman untuk menggapai kehidupan yang robany. Dan pembinaan itu tentunya harus berlandaskan ilmu. Seorang yang memiliki ilmu bisa tampak lebih sufi dari orang yang berada dalam aliran tasawuf. Sebagaimana orang bisa tampak lebih berilmu dari orang yang duduk di bangku sekolah.

Dari uraian sebelumnya diharapkan dapat mengantarkan kita dalam menyikapi aliran tasawuf yang ada

Tinggalkan komentar

Filed under ilmu fiqih, sufistik

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s